Cerita Pendek Rumah Hujan

© canstockphoto4458406
© canstockphoto4458406

Awalnya mereka heran kenapa Narpati menjuluki rumah itu Rumah Hujan. Mereka sama sekali tidak melihat air yang menetes dari atap

Narpati memasuki Rumah Hujan pertama kali saat usianya lima tahun. Saat itu hari ke lima musim kemarau. Ibunya membangunkannya tepat pada kokok pertama ayam jago. Ia tak mandi saat itu. Udara kering masih terlalu dingin. Ibunya hanya membilas wajahnya dengan air di bak yang tinggal setengah. Ayahnya pasti lupa menimba air di sumur kemarin sore. Berbaju putih dan berkuncir dua, Narpati keluar dari rumah dengan mata terpejam dalam gendongan ibunya. Ayahnya tak ikut. Entah kenapa.

Mungkin jarak ke Rumah Hujan hanya tiga jam. Atau lima jam. Entahlah. Narpati tak ingat. Saat membuka mata, ia sudah berada di sebuah pendopo. Ibu mungkin menggendongnya turun dari pendopo. Banyak hal yang tidak begitu diingatnya saat itu. Hanya satu yang membekas di benak Narpati. Air dari teritisan atap yang terus menetes. Narpati menyukai hujan. Apa pun tentang air. Ia memilih air karena membenci kemarau. Banyak debu. Matanya sering kelilipan dan ia sering kasihan melihat ayahnya harus mencari air hingga ke gunung.

Sejak melihat air itu, Narpati memutuskan menyukai Rumah Hujan. Ia menyebutnya demikian karena hingga ia meninggalkan rumah itu, Narpati melihat air seolah menjadi selubung yang menyelimuti atap. Narpati jadi ingat kelambu yang sedikit bolong-bolong yang dipasangkan ayahnya saat ia hendak tidur.

Kata Ibu, itu rumah budenya. Narpati sempat berkenalan. Seorang perempuan berambut putih dengan wajah mirip Ibu. Ia tak ingat benar namanya. Narpati hanya ingat saat itu ia disuapi Ibu nasi beras merah, pecel kembang turi, bayam, dan kacang panjang dengan peyek teri. Sesudah makan, Narpati menghabiskan waktunya di teritisan atap, bermain air, dan memungut bunga-bunga kamboja yang berjatuhan di tanah untuk oleh-oleh ayahnya. Setelah itu Ibu memanggilnya dan mereka pulang. Narpati masih sempat mencium tangan Bude. Ada wangi cengkeh bercampur daun sirih di tangan penuh keriput itu
*
Lima bulan yang lalu, ayah Narpati pergi. Kata Ibu, Ayah harus mencari kayu-kayu yang lebih banyak untuk membuat meja dan kursi pesanan. Narpati kesepian. Dengan ayahnya, Narpati memiliki banyak permainan. Ayahnya kerap membuatkan mobil-mobilan dari jeruk bali, kalung dari tangkai daun singkong, atau menemani bermain petak umpet. Narpati paling senang bersembunyi di ceruk pohon randu yang lubangnya cukup dalam untuk menyimpan tubuhnya. Narpati pernah tertidur cukup lama di dalam ceruk. Di sana udara sejuk dan ia seolah mendengar bisikan yang sama seperti yang didengarnya saat di Rumah Hujan. Bisikan itu seperti suara rebab yang kerap dimainkan ayahnya saat bulan purnama.

Kini Narpati tak lagi bisa mendengar rebab. Tak lagi menemukan teman bermain sehangat ayahnya. Ibunya tak suka bermain. Ia lebih senang menghabiskan waktu membaca gulungan-gulungan lontar yang tersimpan di ruang belakang. Narpati berharap ayahnya cepat pulang. Tapi saat menanyakan kapan ayahnya pulang, Ibu hanya terdiam. Ia seolah tak mendengar pertanyaan Narpati.

Malam ini, saat tertidur, Narpati seolah mendengar suara ayahnya. Ia terbangun. Dilihatnya Ibu duduk di pinggir ranjang memandangi dirinya.

“Kita harus pergi, Nar.”

“Ke mana, Bu?”

“Ke tempat Bude. Dia sudah menunggu kita.”

Narpati senang akhirnya ia bisa kembali ke Rumah Hujan. Sejak kedatangannya ke sana dua tahun silam, Narpati sering memimpikan rumah itu. Aneh. Seperti ingatan lama yang terbongkar kembali. Seolah Narpati pernah lama tinggal di sana. Padahal ia tak pernah menginap di sana. Hanya berkunjung. Itu pun satu kali. Mungkin saat ia masih bayi. Tapi waktu bertanya pada Ibu, Narpati sama sekali tidak pernah diajak orangtuanya ke sana.

Di luar, purnama berkabut. Sunyi semakin berkarat. Hanya ada suara telapak kaki kuda yang dipacu sais untuk berlari. Ibu terdiam. Begitu pula Narpati. Ia ingin merekam perjalanan menuju Rumah Hujan. Dulu ia tertidur. Kini dengan mata bocahnya. Narpati berusaha menghafal jalan. Meskipun sulit, karena sinar purnama terhalang kabut.

Menjelang fajar, Narpati melihat Rumah Hujan yang ternyata terletak di kelokan jalan di bawah sana. Jalanan menurun. Sais dokar tampak menarik tali kekang menahan laju lari kuda. Dari dalam dokar, Narpati melihat atap Rumah Hujan yang masih meneteskan air. Ia tak sabar ingin bermain air yang menetes dari teritisan atap.

Saat tiba di depan rumah, Narpati melihat budenya sudah menunggu di pendopo. Rambut putihnya tergeraiseperti rambut peri yang pernah dilihatnya di rumpun bambu di belakang rumah. Peri itu tersenyum. Sama seperti senyum budenya. Hangat. Narpati menjadi mengantuk. Ia merasa tubuhnya berpindah dari gendongan ibunya ke tangan seseorang. Pasti itu tangan budenya. Ia dibawa masuk ke sebuah kamar berbau bunga melati. Samar-samar ia mendengar ibunya pamit kepada Bude.

“Mbak, aku harus mencari suamiku. Titip Narpati. Aku tahu sudah waktunya ia tinggal bersamamu.” Suara ibunya terdengar serak dan perih. Narpati ingin membuka matanya. Berlari dan memeluk tubuh ibunya yang semakin gering sejak ayahnya pergi. Namun bau melati ini terus melelapkannya.

*

Narpati kini berusia sembilan tahun. Dua tahun sudah ia tak mendengar kabar ibunya. Setiap kali bertanya pada Bude, Narpati hanya mendapat jawaban bahwa ayah dan ibunya baik-baik saja. Jika baik-baik saja, mengapa mereka tidak menjemputnya? Bukan berarti ia tidak suka bersama Bude. Ia betah tinggal di Rumah Hujan. Banyak hal menarik di sana. Ia juga mulai memiliki beberapa teman yang tinggal tak jauh dari rumah budenya.

Ada lima anak kecil, tiga di antaranya sebaya dengannya. Mereka kerap singgah di Rumah Hujan. Setiap habis sarapan, mereka akan mencari Narpati dan mengajaknya bermain. Awalnya mereka tidak mau bermain di Rumah Hujan. Mereka lebih suka mengajak Narpati bermain di danau yang berjarak sepuluh menit berjalan kaki. Pernah Narpati bertanya pada Rusdi, salah satu temannya, mengapa mereka tidak mau bermain di Rumah Hujan, padahal halaman begitu luas dan penuh dengan pepohonan yang bisa menyembunyikan mereka saat bermain petak umpet. Menurut Rusdi, mereka dilarang orang dewasa untuk bermain di sana. Rusdi sendiri tak tahu alasannya. Mereka nekat ingin mengenal Narpati karena sering melihat Narpati bercakap-cakap dengan pepohonan. Mereka pikir Narpati kesepian.

Awalnya mereka heran kenapa Narpati menjuluki rumah itu Rumah Hujan. Mereka sama sekali tidak melihat air yang menetes dari atap. Akhirnya Bude menyuruh Narpati memegang kepala teman-temannya satu persatu. Awalnya Rusdi. Kata Rusdi, ia seperti mendengar tetesan air jatuh ke lantai tanah. Perlahan, matanya mulai melihat tetesan air itu. Setelah Rusdi, Narpati mulai memegang kepala yang lainnya dan mereka mulai bisa melihat air itu seperti Rusdi. Sejak itu, mereka mau bermain di sana. Diajari Bude, mereka kerap mengambil kuntum asoka, mengambil tangkai sarinya dan mencecap madu di pangkalnya.

Mereka juga mulai bisa mendengar suara-suara yang sering berkumpul di pohon sukun di pojok halaman. Suara-suara itu halus, kadang seperti sebuah bisikan. Wulan, adik Rusdi, bahkan pernah tertidur di bawah pohon itu. Katanya suara itu membuatnya mengantuk. Dalam tidurnya, Wulan bermimpi tentang kabut berwarna pelangi yang turun dari atas bukit dan berkumpul menetap di atas Rumah Hujan. Saat menceritakan mimpi itu, Bude Kanti tampak terdiam. Tak lama kemudian Bude masuk ke dapur dan membuat bubur merah putih. Ia menyuruh kami semua makan bubur itu.

Sejak mimpi Wulan itu, Narpati kerap terbangun di tengah malam. Saat terbangun, ia mencari Bude dan kerap melihat perempuan itu berada di halaman dengan rambut terurai. Narpati tak tahu apa yang diucapkan budenya. Ia hanya melihat bibir budenya tampak berbicara. Ada dua sinar di depan budenya. Satu berwarna ungu, satunya lagi biru. Ada suatu perasaan aneh pada diri Narpati. Ia merasa mengenal kedua sinar itu. Seolah merindukannya. Namun ia tak tahu mengapa ia ingin mendekap kedua sinar itu.

*

Sejak kemunculan kedua sinar itu, teman-teman Narpati tak lagi datang ke Rumah Hujan. Suatu kali Narpati memberanikan diri datang ke rumah Rusdi. Bersama Wulan, Rusdi menemui Narpati di luar pagar rumahnya. Mereka berdua tidak mengajak Narpati masuk.

“Mbak, Wulan tidak boleh lagi main ke rumah Mbak Narpati. Padahal Wulan kangen pengen tidur di bawah pohon sukun lagi. Rasanya ayem.” Wulan terlihat takut saat mengatakan hal itu. Berkali-kali ia menengok ke belakang ke arah rumahnya, seolah ada orang yang melihat mereka bertiga.

Kata Rusdi, orangtua mereka tak lagi mengizinkan keduanya bermain bersama Narpati. Bahkan untuk singgah ke Rumah Hujan. Rusdi juga bilang bahwa teman-teman yang lain juga dilarang orangtua masing-masing mengunjungi Narpati.
Sesampainya di rumah, Narpati menanyakan hal ini kepada Bude Kanti. Ia sebenarnya ragu akan mendapat jawaban dari budenya. Narpati tahu, budenya tak banyak bicara. Bahkan saat Narpati menanyakan keberadaan orangtuanya, Bude Kanti hanya tersenyum dan memintanya bersabar.

“Orangtuamu selalu ada di dekatmu, Nar,” kata Bude Kanti sambil mengelus kepala Narpati.

Tentu saja Narpati tak percaya. Ia sering berharap orangtuanya datang menjemputnya kembali. Ia sering berlari keluar rumah setiap kali mendengar suara dokar. Berharap dokar itu membawa sosok ayah-ibunya. Namun penantiannya sia-sia. Akhirnya ia menghabiskan waktu mempelajari banyak hal yang diajarkan budenya. Dari menggerakkan sehelai daun hingga menghidupkan lampu minyak di halaman dengan meniupkan angin dari mulutnya.

Kini, setelah kepergian teman-temannya, Narpati bertekad akan memaksa budenya agar menjawab pertanyaan yang tak terucap selama ini. Tentang orang-orang dewasa yang melarang teman-temannya datang ke Rumah Hujan, tentang malam-malam purnama saat ia melihat budenya terbang di antara pepohonan di halaman, saat ia selalu berhasil menebak tempat persembunyian teman-temannya ketika mereka bermain petak umpet, atau ketika ia menangis keras hingga mendatangkan guntur.

Bukan jawaban yang diterimanya dari Bude. Sore itu, sejak ia pulang dari rumah Rusdi, Narpati disuruh Bude untuk mengemasi pakaiannya. Bude telah menyiapkan dua lembar jarik tempat ia harus memasukkan pakaian-pakaiannya menjadi buntelan. Tak banyak yang bisa dibawa Narpati. Toh pakaiannya memang sedikit. Budenya juga mengemasi pakaian dan beberapa barang. Dilihatnya Bude memasukkan sekotak perhiasan emas dan sepuluh ikat uang kertas ke dalam tas kain. Selepas matahari tenggelam, Narpati mengikuti langkah budenya keluar dari Rumah Hujan.

Aneh. Saat meninggalkan pendopo, Narpati melihat air tak lagi menetes dari atap. Ia mendongak ke arah budenya. Saat itu Narpati melihat betapa renta perempuan itu. Tubuh kurusnya terlihat ringkih dibalut kain lurik hitam. Membawa lampu minyak, mereka melangkah menyusuri jalan menuju bukit di atas sana. Bintang tak muncul malam ini. Mungkin mendung. Jika saja benar, ini bakal menjadi hujan pertama di tahun ini. Hujan yang sangat diharapkan penduduk desa.

Hampir tiba di ujung bukit, Narpati berbalik, mencoba melihat kembali Rumah Hujan. Ia melihat banyak nyala obor mengelilingi rumah berbentuk limasan itu. Dari tempatnya berdiri, obor-obor itu seperti kunang-kunang yang pernah ditangkapnya di dekat danau. Tiba-tiba salah satu kunang-kunang itu menyentuh rumah. Rumah Hujan kini berwarna kuning kemerahan.

Malam itu seharusnya dingin. Dari atas bukit, Narpati merasakan angin kering musim kemarau menerbangkan panas dari Rumah Hujan yang perlahan lenyap ditelan kunang-kunang itu. Narpati tak tahu kapan ia bisa kembali ke Rumah Hujan lagi. Padahal ia berharap bisa menunggu ibu dan ayahnya datang menjemputnya kembali di rumah itu. Rumah yang menjadi tempat ia melihat ibunya terakhir kali. Tempat ia mendapat teman-teman baru. Teman-teman yang bisa melihat apa yang dilihatnya. Merasakan apa yang dirasakannya.
 

Dewi Ria Utari lahir tahun 1977 di Jepara, Jawa Tengah. Dia memulai karirnya di bidang jurnalistik, dan mulai menulis cerita pendek pada 2003. Karyanya dimuat di berbagai media massa: Jakarta, A +, Spice, Media Indonesia, Koran Tempo, dan Kompas, serta masuk dalam antologi seperti Ripin: Cerpen Kompas Pilihan 2005-2006 , 20 Cerpen Terbaik –Anugerah Pena Kencana 2008, dan Cinta di atas Perahu Cadik: Cerpen Kompas Pilihan 2007.