Cerita Pendek Surat Berdarah untuk Bapak Presiden

© canstockphoto5688117
© canstockphoto5688117

Dahulu saya juga pernah bercita-cita menjadi presiden, tapi ndilalah nasib saya kok jelek, malah jadinya babu

Assalaamu’alaikum Bapak Presiden yang saya hormati.
Sebelumnya, perkenalkan dulu nama saya Minah, lengkapnya Rosminah. Asli saya dari Kediri. Sekarang saya bekerja di Hongkong mengurus 5 ekor anjing majikan saya. Anak saya yang masih balita malah saya tinggalkan di kampung saya untuk diurus sama neneknya…


Krinnnggg… krinnnggg… krinnnggg…

Suara alarm jam 7 pagi membuyarkan pikiran Minah yang sedang memikirkan kata-kata yang hendak ditulisnya pada secarik kertas. Buru-buru ia lipat kertas itu dan ia selipkan di bawah kasur lapuknya. Perempuan dua puluh tahun itu bergegas keluar dari gudang-kamar yang disediakan oleh majikan untuknya, dan menuju ke dapur mempersiapkan makanan untuk kelima anjing majikannya. Suara gonggongan kelaparan anjing-anjing terdengar dari kandang di dalam gudang. Tak ingin membiarkan gonggongan itu semakin lama terdengar, Minah bergegas membawa makanan yang telah disiapkannya. Kelima anjing itu pun bungkam dan dengan rakus menyantap makanannya, sementara Minah mempersiapkan tali pengikat di leher mereka. Tugas selanjutnya adalah mengajak anjing-anjing itu jalan-jalan pagi. Sebelum ia keluar dari gudang yang terletak terpisah di belakang rumah induk, Minah mengambil kembali lipatan kertas yang ditaruhnya di bawah kasur dan menyelipkannya di saku bajunya.

Bapak Presiden yang saya hormati. Dahulu, saya juga pernah bercita-cita menjadi presiden, tapi ndilalah nasib saya kok jelek, malah jadinya babu. Saya pernah diceritani oleh bapak saya kalau Pak Presiden itu serba tahu dan serba bisa menyelesaikan masalah rakyatnya, pokoknya, Pak Presiden itu orang paling puinter dan paling baik se-Indonesia. Maka dari itu, saya ingin menceritakan kepada Pak Presiden tentang saya dan permasalahan yang sedang saya alami. Dan saya ingin Pak Presiden membantu saya.

Di atas bangku taman, Minah kembali melanjutkan coretannya. Beruntung, anjing-anjing itu tidak terlalu membuatnya repot. Mereka duduk tenang di dekat bangku taman, memperhatikan lalu-lalang orang yang sedang menjalankan kesibukan paginya masing-masing. Mungkin mereka kekenyangan. Minah sedang memikirkan kata-kata apa lagi yang hendak ditulisnya ketika tiba-tiba dua anjingnya buang kotoran. Bau menyengat seketika menyeruak. Minah panik. Ia lupa membawa koran!

Minah dilanda kebingungan apakah ia akan membiarkan saja kotoran anjingnya dan pergi dari tempat itu dengan berpura-pura tidak terjadi apa-apa; ataukah merelakan kertas tulisan di tangannya digunakan sebagai pengganti kertas koran untuk mengambil kotoran itu dan membuangnya ke tempat sampah khusus kotoran anjing. Jika ia memilih yang pertama, orang-orang pasti akan melaporkan perbuatannya kepada majikannya. Akibatnya ia pasti akan kena hukuman. Jika ia memilih yang kedua, ia akan kehilangan coretan surat yang telah susah payah dikarangnya. Minah memilih yang kedua, namun ia tidak membuang kertas tulisannya. Meski telah belepotan kotoran anjing, ia melipat kertas itu dan membawanya pulang. Minah berencana akan menyalin tulisan yang telah dikarangnya pada kertas yang baru.

Minah hanya tamatan SD. Ia berangkat ke Hongkong atas ajakan seorang calo tenaga kerja. Calo itu membawanya ke salah satu agen yang mengurus segala keperluan dan persyaratan kerjanya. Minah tidak tahu apa-apa. Ketiadaan pekerjaan dan kesulitan ekonomi keluarga membuatnya gelap mata. Ia percaya begitu saja waktu menandatangani kontrak kerja yang disodorkan oleh agennya. Baginya, yang terpenting ia bisa mendapatkan kerja. Apalagi agennya tidak mensyaratkan banyak biaya. Ia diberitahu jika semua biaya akan dipotong dari gajinya. Minah semakin yakin ia bisa memperbaiki kondisi ekonomi keluarganya dengan bekerja di luar negeri, meski untuk itu ia harus meninggalkan anak pertamanya yang baru berusia 4 tahun.

Assalamu’ alaikum Bapak Presiden yang saya hormati,
Sebelumnya, perkenalkan dulu nama saya Minah, lengkapnya Rosminah. Asal saya dari Kediri. Sekarang saya bekerja di Hongkong mengurus 5 ekor anjing majikan saya. Kalau dipikir-pikir, kok saya tega, lebih memilih mengurus anjing daripada mengurus anak saya sendiri. Anak saya yang masih balita malah saya tinggalkan di kampung saya untuk diurus sama neneknya. Tapi ini sudah menjadi nasib saya, Pak Presiden. Saya hanya bisa pasrah.


Bapak Presiden yang saya hormati,
Dahulu saya juga pernah bercita-cita menjadi presiden, tapi ndilalah nasib saya kok jelek, malah jadinya babu. Saya pernah diceritani oleh bapak saya kalau Pak Presiden itu serba tahu dan serba bisa menyelesaikan masalah rakyatnya. Pokoknya, Pak Presiden itu orang paling puinter dan paling baik se-Indonesia. Maka dari itu, saya ingin menceritakan kepada Pak Presiden tentang saya dan permasalahan yang sedang saya alami. Dan saya mohon agar Pak Presiden bisa membantu saya.

Tapi saya tidak tahu bagaimana menceritakannya, Pak Presiden. Saya tidak pandai menulis. Kata Mbak Tutik, kalau mau belajar menulis, saya harus sering-sering menulis apa saja yang melintas di pikiran saya. Pokoknya yang penting tulis dulu, gitu katanya. Kalau saat ini saya berusaha semampu saya untuk menulis surat kepada Bapak, itu karena MbakTutik. Dia yang selalu menasihati dan memberi saya dorongan semangat untuk tidak takut menyuarakan isi hati dan pendapat saya. Mbak Tutik orangnya juga pinter. Meskipun dia pembantu juga seperti saya, tapi dia lebih beruntung. Majikannya tidak segalak majikan saya. Dia juga punya waktu libur sehingga dia bisa menggunakannya untuk ambil kursus ini dan itu. Saya kepingin seperti dia, Pak Presiden. Tapi saya tidak punya waktu. Gaji saya juga sedikit, Pak, jauh berbeda dengan gajinya MbakTutik. Dia bilang, saya terkena underpayment, dan dia menyuruh saya untuk menuntut hak-hak saya. Tapi saya tidak mudheng harus bagaimana, Pak.

Usaha saya hanya sebatas menulis surat ini, Pak. Saya juga tidak tahu, setelah surat ini selesai, bagaimana saya akan mengantarkannya kepada Bapak. Saya tidak tahu alamat Bapak. Kalaupun saya tahu alamatnya, apakah saya akan sanggup mengirimkannya? Ongkosnya pasti mahal. Sejak bekerja di sini pun, saya belum pernah berkirim surat kepada keluarga saya di Kediri. Eman-eman perangkonya, Pak. Lebih baik ditabung untuk bekal saya pulang nanti.

Perempuan sawo matang itu tidak semawar namanya. Keharuman dan kesegaran masa mudanya telah lenyap dan layu oleh sulitnya perjalanan hidup. Duri-durinya telah tumpul digerus duka dan derita. Setamat SD, ia langsung bekerja di pabrik rokok sebagai buruh linting. Gajinya yang pas-pasan tidak bisa mencukupi kebutuhan keluarganya, apalagi dua orang adiknya juga masih bersekolah. Meski demikian, ia bercita-cita ingin menyekolahkan adik-adiknya sampai tinggi. Ketika salah satu adiknya tamat SD, pabrik rokok tempatnya bekerja melakukan PHK besar-besaran. Investor asing telah membeli sebagian besar saham pabrik rokok tersebut dan melakukan modernisasi serta efisiensi tenaga kerja. Minah menjadi salah satu korban PHK. Dengan terpaksa ia memendam cita-citanya untuk menyekolahkan adik-adiknya.

Bapak Presiden yang baik hati,
Kenapa sekolah harus mahal, ya? Sampai kapan orang-orang seperti saya bisa memperbaiki kualitas hidup jika untuk sekolah saja tidak sanggup? Jika saya boleh meminta sesuatu kepada Bapak Presiden, saya ingin agar Bapak membantu menyekolahkan adik-adik saya. Saya yakin Bapak punya uang yang sangat banyak untuk bisa menyekolahkan banyak anak-anak yang tidak mampu.


Bapak Presiden yang sangat baik,
Saya juga ingin bersekolah lagi. Mbak Tutik bilang, usia saya masih cukup muda, masa depan saya masih panjang. Tapi saya tidak mau menjalani masa depan saya tetap sebagai buruh. Saya ingin melanjutkan sekoloh seperti Mbak Tutik, meski sambil bekerja. Doakan saya, semoga pada kontrak berikutnya saya bisa mendapatkan majikan yang baik dan gaji yang besar.


Di usianya yang masih belia, ia menikah dengan seorang petani penggarap tembakau. Bersama suaminya, Minah menggarap lahan tembakau milik orang lain. Keduanya hidup dari upah menggarap lahan yang lagi-lagi hanya pas-pasan. Ketika anak pertamanya lahir, lahan tembakau yang digarap suaminya gagal panen. Upah pun menurun drastis. Minah terpaksa mencari utangan ke sana-ke mari untuk membiayai persalinan anaknya.

Deraan hidup rupanya masih ingin mengakrabi Minah. Pada suatu hari, suaminya pergi meninggalkannya tanpa pesan, setelah sebelumnya terjadi cekcok karena utang-utang yang telah menumpuk. Minah putus asa. Maka ketika seseorang menawarinya bekerja di luar negeri, Minah pun menyambutnya dengan tangan terbuka.

Bapak Presiden gajinya berapa ya sebulan? Pasti sangat banyak. Pasti bisa untuk membiayai sekolah putra-putri Bapak sampai setinggi-tingginya. Tidak seperti gaji saya, Pak. Kata Mbak Tutik, seharusnya saya menerima gaji lebih besar dari gaji yang saya dapatkan sekarang. Tapi saya tidak tahu bagaimana harus mengurusnya, Pak. Ah, kalaupunnanti gaji saya sudah sepatutnya, pasti tetap kalah banyak dengan gaji Bapak Presiden sebagai orang nomer satu di Indonesia. Saya kan cuma buruh, sedang Bapak adalah presiden.

Biasanya Minah kembali ke rumah setelah hari mulai panas dan anjing-anjing itu telah cukup merasakan jalan-jalan. Pekerjaan selanjutnya adalah membersihkan kandang dan halaman dari kotoran-kotoran anjing, serta memandikan mereka pada sore hari. Demikian pekerjaan Minah setiap harinya, selain mengerjakan pekerjaan-pekerjaan rumah lainnya. Agar majikannya tidak curiga, Minah selalu menyelipkan kertas tulisannya ke bawah kasur lapuk tempat tidurnya. Ia tidak ingin disangka sedang menulis sesuatu yang akan merugikan mereka.
Suatu hari, salah satu anjing mendadak sakit dan Minahlah yang dipersalahkan. Ia dipukuli dan dihukum tidak mendapatkan jatah makan selama tiga hari. Hari pertama hukumannya, Minah masih bisa menahan rasa laparnya. Hari kedua, ia mulai tergoda untuk memakan makanan anjing demi mengganjal perutnya. Hari ketiga, ia nekatr menelan makanan anjing, itu pun hanya sedikit. Ia khawatir majikannya akan tahu jika jatah makanan untuk anjing-anjingnya telah berkurang.
Malam itu, setelah selesai masa hukumannya, dalam kelaparan dan keletihan, Minah menyadarkan tubuhnya di dinding gudang dan kembali melanjutkan suratnya.

… Apa seorang babu seperti saya ini lebih rendah daripada seekor anjing ya, Pak? Bagaimana perasaan Bapak Presiden sebagai pemimpin saya jika tahu kalau saya, rakyat yang Bapak pimpin diperlakukan lebih rendah daripada anjing? Ah, mungkin Bapak tidak akan pemah tahu. Mungkin Bapak lebih mementingkan urusan lain yang lebih besar, yang lebih menguntungkan daripada sekadar mengurusi urusan remeh-temeh rakyat kecil seperti saya ini. Tapi, saya rakyat Bapak juga kan, Pak? Seandainya saya dulu bisa bersekolah terus sampai setinggi-tingginya, pasti saya tidak akan bernasib seperti ini kan, Pak? Maka dari itu, saya ingin adik-adik saya bisa melanjutkan sekolah agar tidak bernasib sama seperti saya, diperlakukan lebih rendah daripada anjing.

Minah melipat kembali kertas suratnya dan memegangnya beberapa saat. Bau debu dan bau busuk barang-barang di gudang memenuhi hidungnya. Juga bau kotoran dari kandang anjing yang satu ruangan dengan tempat tidurnya. Belum sempat ia menyelipkan kertas itu di bawah kasurnya ia keburu terlelap karena tubuhnya yang teramat letih. Alarm waktu makan malam anjing yang berdering tak mampu mengusiknya. Suara gonggongan kelaparan anjing-anjing tak sanggup membangunkannya dari lelap. Bahkan ketika menjelang tengah malam, ia merasakan jilatan-jilatan dan gigitan-gigitan di telapak dan pergelangan tangannya, ia tak menghiraukannya. Ia sudah tidak punya tenaga untuk terjaga. Ia hanya ingin istirahat dalam tidurnya.

Malam itu, tidak ada siapa pun di rumah. Majikannya baru saja berangkat ke Shanghai dan mungkin akan kembali keesokan harinya. Itulah mengapa Minah tidak begitu peduli akan gonggong kelaparan anjing-anjing majikannya. Ia hanya ingin sedikit merasakan udara kebebasan, meski hanya untuk semalam. Ia tidak ingin mengingat apa-apa selain bocah kecilnya di desa.

Menjelang tengah malam, anjing-anjing itu keluar dari kandangnya. Minah lupa menutup pintu kandang. Kelimanya mengendus bau makanan dan mendekati Minah. Mulanya mereka hanya berebut menjilati telapak tangan Minah, sumber dari bau makanan itu. Meskipun Minah selalu mencuci tangannya seusai memberi makanan anjing, bau makanan anjing tetap saja melekat di tangannya. Seekor anjing yang paling besar menggeram dan mendorong anjing lainnya agar ia bisa menikmati sendiri telapak tangan Minah. Anjing lainnya tidak terima, lalu mereka balas mendorong. Tidak ingin dirinya dikalahkan, anjing terbesar itu mengigit keras-keras telapak tangan Minah, tepat di pergelangan tangannya, seolah hendak menguasai sendiri sumber makanannya. Anjing-anjing lainnya tak mau kalah, berebut tangan Minah.

Minah menjerit bangkit menahan sakit, tapi ia tidak punya cukup tenaga untuk melepaskan tangannya dari gigitan anjing-anjing itu. Darah segar mengucur dari nadi di pergelangan tangannya, melumuri kertas surat yang sebelumnya berada dalam genggaman Minah. Anjing-anjing itu semakin menggeram menggila. Pergelangan tangan Minah semakin koyak. Dengan sisa tenaganya, Minah bangkit menendang anjing-anjing itu dan berusaha melepaskan tangannya dari gigitan mereka.
Hampir setengah jam lamanya Minah bergulat melawan anjing-anjing kelaparan itu. Minah menjerit minta tolong, namun sia-sia, tidak ada yang mendengar jeritnya. Saat tangannya berhasil terlepas, ia tersungkur kehabisan tenaga. Darah segar semakin mengucur, menggenang di lantai gudang. Gigitan anjing-anjing itu telah menembus nadinya. Mereka semakin menyalak galak. Dengan sisa tenaga, Minah menggapai-gapaikan tangannya meraih kertas surat yang tergeletak di lantai berlumuran darah. Tepat ketika tangannya berhasil menggenggam kertas surat itu, segalanya mendadak gelap. Minah terkapar.

Hong Kong. Apple Daily
Seorang wanita pekerja migran asal Indonesia ditemukan tewas di sebuah rumah di kawasan Tai Po. Wanita berusia dua puluh tahun itu bunuh diri dengan mengiris pergelangan tangannya. Korban meninggal karena kehabisan darah. Bunuh diri dilakukan saat Mr. Jiao, pemilik rumah di mana wanita itu bekerja,- sedang pergi ke Shanghai. Korban ditemukan pertama kali oleh petugas kebersihan yang curiga mendengar keributan anjing-anjing dari dalam gudang. Di genggaman tangan korban, ditemukan sebuah surat yang diduga berisi catatan bunuh diri korban. Polisi telah mengamankan surat tersebut sebagai barang bukti untuk penyelidikan lebih lanjut.