Cerita Pendek João

© canstockphoto4515675
© canstockphoto4515675

Kasihan Ibu. Ia harus menghadapi aku sendirian. Aku tidak pernah mengenal ayahku. Menurut bisik-bisik orang, ia menghilang ke dalam hutan

Pada akhirnya, João, aku mengizinkan mereka menurunkan tubuhmu ke dalam liang kuburmu, sebuah lubang seperti mulut menganga yang mereka gali terburu-buru, seolah ragu berpisah dengan persembahan indah ini. Ya. Tubuhmu masih juga begitu indah hingga akhir. Sungguh benar apa yang orang-orang katakan: mereka yang tersayang, yang meninggal, kerap tampak seperti tidur semata. Engkau juga seperti itu, João.
Isabella pernah berkata padaku suatu saat bahwa entah seberapa kejamnya seorang lelaki dalam jaganya, entah seberapa keras jiwanya, begitu ia tidur, semua lelaki akan tampak seperti anak-anak surgawi. Dan, demikian lanjut Isabella, begitu engkau melihat wajah lelaki yang mungkin engkau sukai barang setitik saja, maka engkau akan terkutuk untuk mencintainya.
Aku tidak tahu apakah hal lni berlaku bagi semua perempuan yang terjaga, dan semua lelaki yang lelap. Yang aku tahu adalah hal ini benar bagiku, denganmu.
Ketika itu usiaku tiga belas dan kau, João, enam belas. Tiga belas adalah usia pemberontakanku. Kalau aku ingat-ingat lagi masa itu, aku mengasihani ibuku. Waktu itu aku adalah perempuan remaja yang sulit. Ada segenap rasa yang menggelegak di dalam tubuhku, seolah mencoba meneriak sesuatu yang penting. Namun aku belum memahami apa gerangan sesuatu yang penting itu. Yang aku inginkan hanyalah untuk tidak menaati ibuku. Aku tidak dapat disuruh melakukan apa pun dengan benar.
Kasihan Ibu. Ia harus menghadapi aku sendirian. Aku tidak pernah mengenal ayahku. Menurut bisik-bisik orang, ia menghilang ke dalam hutan. Bahkan ketika Ibu menyuruhku untuk mengambil seember air dari mata air yang jaraknya hanya setengah jam jalan kaki dari rumah, aku akan kembali dua, tiga jam kemudian, dengan ember yang hanya dua per tiganya berisi air. Aku membuat ibuku hampir gila, tapi aku tidak peduli. Ibuku menyuruhku untuk segera pulang setelah mengambil air, tapi aku malah berjalan pelan-pelan menyusuri padang sabana berbukit di antara mata air dan rumahku. Bongkahan batu kapur berserak di mana-mana, di antara rerumput dan sesekali pohon.
Aku temukan engkau tertidur di bawah salah satu pohon itu, suatu hari. Mulanya aku hanya melihat kambing-kambing milik orangtuamu. Engkau tengah disuruh menggembalakan mereka. Kambing-kambing itu merumput dengan malas sementara angin bertiup lembut. Karenanya aku tidak heran engkau tertidur. Begitu aku melihat wajah lelapmu, sesuatu di dalam diriku mencair menjelma cairan kuning hangat amber dan di dalamnya kulihat diriku beranak pinak dan beranjak tua bersamamu.
Bayangkan, betapa menakjubkan dan membingungkannya bayangan gelora seperti itu bagiku, anak perempuan tiga belas tahun!
Aku tahu, João, bayangan seperti itu demikian lugu. Tapi itulah yang memulai segala angin puting beliung ini. Itulah sebabnya mengapa aku berdiri di sini, sekarang, sementara mereka menimbun lubang kuburmu dengan tanah kering selagi kami masih dapat mendengar suara ledakan senapan di luar. Bagiku, engkau indah sejak kulihat dirimu hari itu sejumlah tahun lalu, ketika engkau masih lelaki belia yang lelap di padang sabana. Engkau masih juga indah. Bahkan dalam kematian. Wajahmu terpaku dalam tenang damai. Bagian belakang kepalamu hilang, namun tetap saja engkau tampak seperti tertidur semata. Karenanya, aku jatuh cinta padamu sekali lagi.
Oh, João. Bagaimana kita bisa sampai pada titik ini?
Beberapa tahun setelah kulihat engkau tertidur di padang, kita bertumbuh, tak terelakkan. Akhirnya engkau menaruh perhatian padaku, gadis dengan kepang tebal yang berjalan canggung lewat depan rumah orangtuamu setiap hari untuk hadir pada misa pagi. Akhirnya engkau jatuh cinta padaku pula. Maka menikahlah kita.
Satu bulan setelah itu, kita pindah ke kota sebab engkau diterima bekerja di kantor pos pusat. Kita bahagia, sangat bahagia, mengalami setiap sudut keberadaan masing-masing kita, di tempat baru, momen demi momen. Kota itu adalah sebuah dunia utuh, dan aku di sana bersama lelaki yang kucintai. Orang-orang bilang bahwa ketakjuban dan asmara gelora akan usai berkala, tak terelak, setelah masa-masa bulan madu berlalu.
Tapi tak pernah usai bagiku, João.
Napasmulah yang diusaikan. Dalam bahagia kita, kita tidak terlampau sadar akan gelisah yang menggeliat di bawah permukaan negeri ini, yang tinggal menunggu saatnya menampakkan wajahnya yang buruk rupa. Celaka betul, sayangku. Engkau sekadar hadir pada tempat yang salah, pada waktu yang tidak tepat.
Di dekat pemakaman Santa Cruz, mereka tengah berunjuk rasa memprotes pembunuhan misterius ketika para lelaki berseragam itu mulai menembak. Engkau sedang menyeberangi jalan, hendak pulang untuk makan siang, menuju masakanku, ketika engkau mendengar suara tembakan dari arah pemakaman. Engkau menunduk, engkau lari, engkau tidak ingin terperangkap di tengah kegilaan ini. Namun sebuah peluru nyasar meledak pada bagian belakang kepalamu, mencerabut nyawa dari tubuhmu, bahkan sebelum engkau terhempas ke tanah.
Kita dianggap mujur, João, sebab demikian kebetulan, engkau terbunuh tepat di depan rumah Roberto dan Maria. Mereka menyaksikan segalanya. Begitu engkau rubuh, Roberto berlari ke arahmu, di tengah desingan peluru, kacaunya teriak dan tangis, lelarian, pembunuhan, untuk menyeret tubuhmu ke dalam rumahnya. Maria menyelinap ke lorong-lorong tikus yang penuh orang-orang berlarian dengan wajah ketakutan dan mata liar, untuk segera mendapati aku.
Aku tengah menunggumu di rumah, namun ternyata Maria-lah yang muncul. Tanpa terlalu banyak kata, ia menyuruh aku mengikuti dia. Katanya sesuatu yang buruk telah terjadi.
Ketika sampai di rumahnya, barulah aku paham betul apa yang telah terjadi. Ketika aku melihatmu di situ, terbaring di tengah ruang, anak-anak cairan kuning hangat amber di dalam hatiku—anak-anak yang seharusnya kita lahirkan—membeku dan menghilang, satu demi satu.
Roberto berusaha meyakinkan aku bahwa kita perlu cepat menguburmu, segera, sebelum tubuhmu ditemukan oleh mereka yang telah membunuhmu dengan demikian lengah. Menurut Roberto, mereka tentu akan merampas tubuhmu dan menguburnya dengan mayat-mayat lainnya disebuah lubang besar entah di mana. Pembantaian ini tidak seharusnya terjadi. Tiada bukti apa pun harus tertinggal di permukaan tanah. Mereka tentu akan berusaha menghapus segala jejak terjadinya insiden ini.
Maria menambahkan bahwa lebih baik menguburmu sesegera mungkin di halaman belakang mereka yang terlindung tembok tinggi di setiap sisinya, tanpa nisan ataupun penanda lainnya. Ya, katanya, tentu akan sulit bagiku, namun tetap lebih baik daripada kehilangan jenazahmu untuk selamanya.
“Kau akan selalu bisa memastikan bahwa ia ada di sini, Elisabet,” kata Maria lembut.
Aku tidak dapat segera menjawab. Orang-orang masih berteriakan di jalanan. Suara-suara lain juga terdengar–tembakan sesekali, jejak berlarian, deru langkah sepatu bot, kendaraan berat meraung lewat. Mungkin sebentar lagi mereka akan mulai menggeledah dari rumah ke rumah.
Aku menatap ke dalam wajahmu, João. Aku masih tengah berusaha mencerna kenyataan bahwa aku telah kehilangan dirimu dan harus menguburmu tanpa peti, tanpa upacara.
Tanpa elak lagi, pada akhirnya, aku setuju. Kejutku masih terlalu dalam untuk air mata. Tangan-tanganku gemetar tanpa bisa kukendalikan. Aku terbasuh keringat dingin. Aku merasa lemah. Dengan tak berdaya aku menyaksikan saja beringasnya Roberto dan Maria menggali tanah di bawah pohon asam tua di halaman belakang mereka.
Dalam dorongan keterpaksaan ini, kekuatan dan kecepatan mereka bekerja sungguh luar biasa. Aku tidak mampu berbuat apa pun untuk menolong mereka.
Akhirnya, setelah membungkus tubuhmu dengan dua potong kain tais, João, mereka menurunkanmu ke dalam lubang itu. Dengan tergesa kami menggumamkan doa-doa akhirat, lalu mereka mulai menimbun lubang itu.
Maria dan Roberto meratakan tanah di atasmu supaya tidak menggunduk mencurigakan, lalu dengan cepat mereka menyebarkan sekarung kerikil di atas kuburmu.
Tadinya mereka berencana menggunakan kerikil-kerikil itu untuk membuat sebuah kolam ikan kecil di situ, namun kini, mereka menggantungkan sebuah ban bekas pada sebuah cabang kuat pohon asam purbakala itu sehingga ban tersebut tergantung tepat di atasmu, João. Kerikil-kerikil itu kini landasan bagi ayunan ban itu.
Anak-anak kita seharusnya bisa bermain di situ. Anak-anak Maria dan Roberto juga seharusnya dapat bergantian berayun dan mendorong. Ya, kita semua menginginkan anak-anak kita untuk lanjut membawa nama-nama moyang kita beserta nama-nama Portugis yang seharusnya akan kita berikan kepada mereka setelah pembaptisan. Namun ini adalah zaman berbahaya, bahkan terlalu berbahaya untuk membiarkan tubuh kita bermimpi akan menjadi bunting. Tanpa pertukaran sepatah kata pun, aku melihat ini semua di dalam mata Maria dan Roberto.
Dalam diam, kami bertiga memperhatikan ayunan ban di atas landasan kerikil itu. Tiada dari kami mampu mengantar anak masuk ke dunia kacau ini. Kami tidak bisa. Namun bagi Maria dan Roberto, waktunya sekadar belum tiba. Bagiku dan dirimu, João, tidak akan pernah. Ah, João. Kita ‘kan hanya tengah berusaha bahagia. Kini aku kembali ke rumah Ibu. Malam itu juga, aku melarikan diri ke kampung kita, karena mereka mungkin akan mencariku juga. Untuk saat ini, rumah Ibu lebih aman daripada kota tempat mereka membunuhmu. Mungkin. Di pagi hari, mataku menyusuri bukit-bukit sabana tempat aku pertama kali melihatmu lelap, bertahun lalu, dan menarik napas panjang, menghirup bau rumput kering.
Ibuku yang tua ini mengkhawatirkan aku, karena setelah empat hari, aku belum mampu menitikkan air mata. Mungkin esok, aku akan menangisimu, João. Mungkin.
 

Nelden Djakababa lahir tahun 1972 di Bogor. Dia seorang psikolog dan akademisi yang mengkhususkan diri di bidang pemulihan trauma dan intervensi psikososial. Selain berkiprah di Yayasan Pulih, Jakarta dan menyelesaikan PhD di University of Amsterdam, ia juga menulis dan menerbitkan cerita pendek, puisi, ulasan buku dan film, serta artikel-artikel psikologi terkait.