Cerita Pendek Menjual Trenggiling

© canstockphoto5688116
© canstockphoto5688116

Aku tidak sabar dan mengambil goni itu dari tangannya. Ia hanya menatapku dengan pandangan memohon.
 

Akhirnya kami menemukannya di situ, bergulung seperti bola di bawah pipa enam belas inci, di sebelah parit kecil yang airnya menghitam karena limbah minyak. Ia sudah tidak bisa ke mana-mana lagi. Di belakangnya, dalam radius berapa ratus meter hanyalah padang tandus sisa-sisa pembakaran hutan yang masih mengepulkan asap panas.

“Kemarikan goninya, Jang!” kataku kepada Ujang—lima tahun—adikku.

Ujang diam. Berdiri dua meter di belakangku dengan tangan masih memegang goni, ia gemetar dan hampir menangis. Aku tahu ia lapar karena sejak Abah pergi, kami belum makan apa-apa. Tapi bukan itu yang menyebabkan ia menangis.

“Cepat sikit, Jang!”

Aku tidak sabar dan mengambil goni itu dari tangannya. Ia hanya menatapku dengan pandangan memohon.

“Itu si Bola, Bang!” katanya. Dan tangis itu pun pecah.

Aku mendekati trenggiling itu dan mendorongnya masuk ke dalam goni dengan bantuan sebuah kayu. Kemudian aku mengikat kepala goni itu dengan akar dan membopongnya di bahu. Ia sedikit pun tidak melawan ataupun menggigit.

“Mari kita pergi!”

Ujang tidak menjawab. Ia kini duduk di atas pipa sambil menghapus air mata dengan ujung baju. Pipa minyak itu mulai terasa panas karena hampir tengah hari.

“Abah…,” katanya terisak.

“Nanti Abah pulang!” jawabku kesal.

“Aku mau makan! Aku lapar, Bang.”

“Iya. Kita jual trenggiling ini, nanti kita beli beras.”

Di luar dugaan Ujang menangis lagi. “Tidak mau! Tidak mau! Itu si Bola….”

“Turun, kau! Jangan menangis! Nanti kutempeleng!”

Aku naik darah. Sebagian karena lapar, sebagian karena kesal tidak bisa menjelaskan kepada Ujang duduk perkaranya.

Ia akhirnya turun. Meraup segenggam buah sikaduduk dan memasukannya ke mulut, kemudian berjalan mendahuluiku dengan air mata masih menetes. Aku melakukan hal serupa, mengambil segenggam buah sikaduduk dan memakannya untuk meringankan rasa lapar. Rasanya getir, segetir perasaan kami.
Kemudian kami beriringan menuju jalan besar untuk menjual trenggiling yang mulai menggeliat di
punggungku.

*

Kemarin malam Abah ditangkap polisi karena menjadi ninja sawit. Ia terpaksa mencuri karena kami sudah tidak punya apa-apa lagi untuk dimakan. Mak sudah meninggal tiga tahun yang lalu, ditabrak truk tangki perusahaan pengeboran minyak sepulang dari ladang. Kami mendapat sedikit santunan, tapi untuk mengurus rumah sakit dan segala macamnya, Abah terpaksa menjual tanah kebun milik kami kepada perusahaan perkebunan dengan harga sangat murah. Aku berumur lima tahun saat itu, ketika kemiskinan mengintip seperti setan. Peristiwa itu tidak pernah diusut dan diperkarakan. Minyak bumi terus mengalir, sawit terus berbuah, sementara kami pelan-pelan menuju maut karena sudah tidak punya apa-apa lagi.

*

Kami keluar dari jalan perkebunan itu menuju jalan utama. Suatu jalan berdebu yang diapit oleh kebun kelapa sawit di sebelah kiri dan pipa minyak di sebelah kanan. Ada kali kecil di salah satu sisinya yang airnya hitam tercemar limbah. Ini adalah jalan yang biasa ditewati truk-truk perusahaan pengeboran minyak dan mobil-mobil kontraktor. Juga menjadi jalan resmi bagi perusahaan perkebunan sawit karena kebun sawit mereka ditanam di atas ladang-ladang minyak milik perusahaan pengeboran minyak. Aku tidak tahu siapa yang lebih berkuasa atas jalan ini. Yang kutahu hanyalah bahwa di bawah tanah tempat aku berpijak terdapat jutaan barel minyak mentah, sementara di atasnya juga terdapat berton-ton minyak sawit yang mahal harganya. Selebihnya yang aku tahu adalah bahwa kami tidak mendapat bahagian sama sekali dari minyak yang di bawah ataupun yang di atas bumi itu. Kami hanya penonton. Menonton orang-orang menggarap tanah kami habis-habisan.

Suatu hari aku pernah melihat seorang supir truk turun dan menawar seekor trenggiling kepada seorang pribumi. Harganya mencapai seratus ribu rupiah seekor. Kata mereka, minyaknya bisa digunakan untuk obat kuat.

Di tempat yang agak lapang dan mudah terlihat, kami berhenti. Ujang kusuruh duduk di bawah sebatang pohon menjaga trenggiling itu, sementara aku membuka baju dan melambai-lambaikannya sambil meneriakkan dagangan.

“Trenggiling!Trenggiting!” kepada setiap mobil yang hanya sesekali melintas.

Aku tidak bisa mengikat trenggiling itu dan memamerkannya supaya terlihat karena Ujang pasti menangis lagi. Baginya itu adalah si Bola, trenggiling yang setiap pagi bermain bersama kami. Aku sendiri ragu, apakah itu memang si Bola atau bukan. Karena di mana-mana bentuk trenggiling selalu sama. Tapi Ujang dapat membedakannya meski hanya sepintas melihat.

*

“Ikat kembali goninya, Jang! Kau bisa digigitnya nanti!” Aku berteriak ketika kulihat dia membuka ikat kepala goni itu dan mencoba mengintip ke dalam.

“Bang, ini si Bola, Bang!” Suaranya parau.

“Diam, kau!” Aku berteriak bersamaan dengan sebuah truk yang melintas. “Trenggiling! Trenggiling!” Tidak ada tanggapan. Hanya jejak roda menimbulkan debu yang mengaburkan pandangan.

Aku tidak peduli apa itu si Bola atau bukan. Kami lapar, yang kami butuhkan adalah nasi, meski kami harus menjual teman sendiri. Si Bola yang dimaksudkan Ujang adalah trenggiling yang selalu bermain dengannya setiap pagi. Mungkin karena habitatnya sudah tergusur karena pembakaran hutan untuk membuka kebun-kebun baru, trenggiling itu tersesat di halaman gubuk kami. Ujang menemukannya secara tidak sengaja dan takjub ketika melihat bahwa binatang itu bisa melingkar seperti bola. Lalu terjadilah persahabatan itu. Bagi Ujang, itulah satu-satunya teman bermain saat aku dan Abah ke hutan mencari madu lebah yang sulit sekali kami dapat.

Tapi sejak Abah tertangkap kemarin—dan aku tahu bahwa ia pasti tidak akan pulang—hanya trenggiling itulah satu-satunya jalan yang dapat menyambung hidup kami buat beberapa hari. Sebab pasti tidak akan ada orang yang mau mempekerjakan aku—anak berumur delapan tahun—di tempat mereka. Tidak di perusahaan perkebunan, apalagi di perusahaan perminyakan itu.

Dulu kami tidak seperti ini. Menurut cerita Abah, Kakek dulu hidup sejahtera. Hidup dari alam dan bersahabat dengan alam. Kami bisa menangkap ikan di sungai mana pun, di rawa mana pun. Tidak ada yang mengaku itu tanah siapa, ini tanah siapa. Kami hidup dari apa yang diberikan alam kepada kami. Lalu di sini dibangun sumur-sumur pengeboran minyak dan stasiun pengumpul. Kemudian pipa-pipa minyak mulai mengalirkan minyak penghasil uang. Sungai-sungai mulai tercemar; ikan mati, udang mati, semuanya isinya mati. Kami tidak mencari ikan lagi karena ikan sudah tidak ada lagi di sungai. Lalu kami bertani di atas rawa-rawa yang kadang hidup kadang mati. Lalu datang orang-orang pintar itu. “Tanah ini lebih cocok untuk sawit,” kata mereka. Lalu pohon sawit mulai ditanam. Hutan-hutan kami dibakar untuk membuka lahan baru. Tanah kami diklaim menjadi milik negara. Kami yang bodoh dibodohi, dicurangi. Tanah-tanah kami diambil, dan pelan-pelan kami menjadi tamu di rumah sendiri. Kami hanya menonton orang-orang (perusahaan pengeboran minyak dan perusahaan perkebunan) menggarap tanah kami dan membagi-bagikan duit di depan hidung kami. Sementara kami kelaparan, telanjang, dan nyaris mati.

*

Matahari makin tinggi. Pipa minyak itu sudah tidak bisa lagi dipegang karena panas. Minyak yang mengalir di dalamnya berdesir-desir seirama bunyi daun kelapa sawit yang gemerisik ditiup angin.
Ujang mengantuk dengan goni masih dalam pelukannya. Matanya terus berair. Ia masih menangis. Mungkin karena lapar atau karena si Bola yang sebentar lagi akan kami jual. Di tengah terik matahari aku telanjang dada. Menggigil karena marah dan rasa lapar yang membunuh.

Kemudian aku melihat satu titik yang berkilauan oleh cahaya matahari. Di belakangnya debu-debu berterbangan dan makin lama makin jelas bahwa itu sebuah truk besar. Aku berdiri di tengah jalan sambil melambai-lambaikan baju. Berharap bahwa fatamorgana tidak menyilaukan sang supir sehingga menabrakku dan menjadikan aku seperti Ibu. Truk itu berhenti. Debu berterbangan di sekitarku dan tertelan. Rasanya pahit, sepahit air muka supir yang tidak senang menatapku.

“Aku menjual trenggiling!”

Ia menatapku lama dan meludah. Air liur itu meliuk, jatuh ke tanah dan menggenang seperti oasis di padang pasir. Mesin truk masih menyala. “Coba katakan padaku untuk apa trenggiling itu,” katanya acuh tak acuh.

“Untuk obat. Obat kuat, Tuan!” kataku seperti yang kudengar dari penduduk.

Dia tertawa, meludah sekali lagi, dan memasukkan persneling untuk maju.

“Tunggu! Tunggu dulu, Tuan!” Aku memanjat jendela samping dan memohon. Rasa putus asa membuatku hampir menangis. Aku sudah mendapat penolakan belasan kali. Truk ini adalah harapanku yang terakhir.
“Aku tidak bohong,” kataku. “Trenggiling itu harganya mencapai seratus ribu rupiah. Kalau Tuan menjualnya di kota, harganya pasti tebih tinggi lagi. Sekarang aku dan adikku belum makan sejak kemarin. Beri kami berapa saja asal kami dapat membeli sesuatu, dan Tuan boleh ambil trenggiling itu.” Ia ragu. Uang membuatnya berpikir sekali lagi. Terdengar kopling diinjak saat ia menoleh ke arahku. “Coba kulihat,” katanya.

Aku gembira. Terbayang beras setengah kilo yang akan kumasak menjadi nasi.

“Jang! Bawa ke mari goninya, Jang! Cepat!”

Ujang sontak bangun. Berlari memanggul goni yang terasa amat ringan. Aku tidak sabar mengambil goni itu dari tangannya. Goni itu terasa ringan. Kosong. Aku pucat, tidak dapat berkata-kata.

“Mana trenggilingnya?” Supir itu menatap remeh ke arahku.

“Tadi… tadi ada di sini…,” aku tergagap-gagap.

Dia meludah sekali lagi. “Sudah kuduga, kalian hanya bisa mengemis dan berbohong,” katanya seraya melepas pedal kopling. Mesin truk enam silinder itu meraung-raung dan bergerak maju.

Aku mematung dalam kumpulan debu di sebelah Ujang yang tertunduk dengan perasaan bersalah bercampur takut. “Aku melepaskannya, Bang!” katanya. “Itu si Bola….”

Aku menangis. Memandang ke arah Ujang duduk tadi dan melihat trenggiling itu. Ia melompat sebentar dan kemudian menghilang di bawah pokok sawit.

“Aku lapar, Bang!!” kata Ujang lagi.

Aku tidak menjawab. Yang terpikir hanyalah apa yang akan kami makan nanti dan belakang truk itu yang berlari jauh….
 

Olyrinson lahir di Payakumbuh, Sumatera Barat tahun 1970. Dia seorang karyawan swasta, penulis produktif, serta beberapa kali memenangi sayembara penulisan cerita pendek, novel, dan skenario. Antologi cerita pendeknya, Sebutir Peluru dalam Buku (2011) bercerita tentang perjuangan masyarakat miskin melawan perusahaan besar yang mengeksploitasi tanah mereka.