Jerman Sebagai Bahasa Asing di Dunia. Survei Data 2015

Naher und Mittlerer Osten

Fokus Negara


Lebih banyak orang belajar bahasa Jerman di Polandia dibandingkan di negara lain mana pun di dunia. Secara keseluruhan ada 2,3 juta pembelajar bahasa Jerman, dengan 2,1 juta di antaranya di sektor sekolah. Polandia dan Jerman memiliki hubungan ekonomi, sosial, dan budaya yang erat. Beragamnya program pertukaran, beasiswa, kesempatan kuliah, dan peluang kerja yang diperluas di perusahaan Jerman di Polandia maupun di Jerman sangat menentukan motivasi untuk belajar bahasa Jerman.

Pendidikan Polandia mulai merasakan akibat dari perubahan demografi yang drastis. Jumlah penduduk Polandia diperkirakan akan menurun dari sekitar 38 juta menjadi 36 juta jiwa dalam kurun waktu 2010 sampai 2035. Perkembangan tersebut membawa dampak luas seperti penutupan fasilitas pendidikan, terutama di kawasan berekonomi lemah dan di pedesaan, serta berkurangnya jumlah tenaga pengajar. Tetapi di tengah situasi sulit ini, bahasa Jerman tetap kokoh di peringkat kedua: 90% siswa Polandia belajar bahasa Inggris, 40% bahasa Jerman, 5% bahasa Rusia, dan 3% bahasa Prancis. Sementara jumlah keseluruhan siswa di Polandia berkurang 25% dalam lima tahun terakhir, jumlah pembelajar bahasa Jerman di sekolah-sekolah berkurang hanya 8% dalam kurun waktu yang sama.

Berbagai proses reformasi yang berlangsung belakangan ini telah mengubah sistem sekolah Polandia. Antara lain diperkenalkan bahasa asing wajib kedua, yang menguntungkan terutama bahasa Jerman. Bahasa Inggris sudah bertahun-tahun lamanya menggantikan bahasa Jerman sebagai bahasa asing pertama. Secara bersamaan, siswa diberi lebih banyak keleluasaan dalam menyusun jadwal pelajaran. Di saat jumlah siswa menurun dengan pesat, peluang ini dimanfaatkan secara aktif oleh para kepala sekolah. Permintaan orang tua dan siswa, dan dengan demikian juga perubahan kurikulum/silabus, sering kali mengarah kepada upaya pemantapan bahasa asing pertama dan mata pelajaran ilmu pasti, yang penting untuk ujian di Polandia.

Kualitas penguasaan bahasa Jerman dalam sistem pendidikan Polandia sangat baik di tempat bahasa Jerman dipelajari sebagai bahasa asing pertama, namun secara keseluruhan cenderung rendah akibat terbatasnya jumlah jam pelajaran per minggu untuk bahasa asing kedua. Di pihak lain, sekolah dengan titik berat bahasa asing – termasuk sekolah binaan ZfA, tempat siswa dapat mengikuti ujian Deutsches Sprachdiplom der KMK Stufe II (DSD II) – serta sekolah bilingual menjatahkan sangat banyak jam pelajaran per minggu.

Perguruan tinggi Polandia juga tidak terbebas dari dampak perubahan demografis. Di semua bidang ilmu terlihat penurunan jumlah mahasiswa. Di antara 1,6 juta mahasiswa terdapat seluruhnya 96.555 orang yang belajar bahasa Jerman – berarti sekitar 6%. Sebagian besar di antara mereka (87.300 mahasiswa) belajar bahasa Jerman sebagai mata kuliah pelengkap, sementara 9.255 orang memilih jurusan germanistik. DAAD membina bahasa Jerman di perguruan tinggi Polandia melalui jaringan 20 lektor dan 5 asisten kebahasaan.

Dalam penyelenggaraan kursus bahasa oleh Goethe-Institut terlihat kecenderungan bahwa banyak orang dewasa (muda) ingin meningkatkan peluang di dunia kerja melalui penguasaan bahasa Jerman. Mereka sering kali pernah mengikuti pelajaran bahasa Jerman di sekolah beberapa waktu lalu.

Saat ini, jumlah pembelajar bahasa Jerman di Polandia tampaknya sulit ditingkatkan lagi, mengingat jumlah siswa merosot akibat perubahan demografis dan bahasa Jerman sebagai bahasa asing berpangsa relatif tinggi telah mencapai ambang batas kejenuhan. Jika pada tahun-tahun lalu Goethe-Institut dengan dukungan DAAD mempromosikan bahasa Jerman dengan cara yang sangat menarik melalui kunjungan ke sekolah-sekolah di seluruh negeri, prioritas di masa mendatang diberikan kepada upaya peningkatan kualitas penguasaan bahasa Jerman, antara lain melalui pelatihan guru, beasiswa, dan proyek pengajaran inovatif.

Hubungan kemitraan yang erat antara Jerman dan Prancis telah melahirkan banyak prakarsa bersama di sektor sekolah dan perguruan tinggi. Sejak deklarasi bersama dalam rangka peringatan 40 tahun Perjanjian Elysée pada tahun 2003, pembinaan bahasa mitra menjadi elemen sentral dalam kerja sama kebudayaan Jerman-Prancis.

Hubungan kemitraan yang erat antara Jerman dan Prancis telah melahirkan banyak prakarsa bersama di sektor sekolah dan perguruan tinggi. Sejak deklarasi bersama dalam rangka peringatan 40 tahun Perjanjian Elysée pada tahun 2003, pembinaan bahasa mitra menjadi elemen sentral dalam kerja sama kebudayaan Jerman-Prancis.

Sistem pendidikan Prancis mendukung multilingualisme dan kebebasan memilih bahasa asing. Saat ini ada hampir 1 juta siswa di Prancis yang belajar bahasa Jerman: 8,6% siswa sekolah dasar dan 15,2% siswa sekolah lanjutan. Antara tahun 1995 dan 2005, jumlah siswa sekolah lanjutan yang belajar bahasa Jerman berkurang sekitar sepertiga akibat peralihan ke bahasa Inggris dan bahasa Spanyol, tetapi sejak itu jumlahnya stabil.

Proyek kelas bilingual yang diperkenalkan kementerian pendidikan Prancis pada tahun 2002, tempat siswa belajar bahasa Inggris dan bahasa Jerman secara bersamaan sejak kelas pertama sekolah lanjutan, berperan besar dalam proses stabilisasi ini. Di kelas-kelas tersebut, jumlah pembelajar bahasa Jerman naik 125% sejak tahun 2004. Dewasa ini, 88,6% siswa yang belajar bahasa Jerman di Prancis duduk di kelas bilingual. Sejumlah evaluasi menunjukkan banyak siswa pada kelas-kelas tersebut lebih berhasil belajar bahasa asing dibandingkan siswa yang belajar satu bahasa asing saja. Sehubungan dengan itu, Goethe-Institut sejak tahun 2011 mengembangkan bahan ajar pada sebuah situs web dan memberikan konsultasi bagaimana guru bahasa Inggris dan bahasa Jerman dapat bekerja sama untuk menciptakan sinergi.

Ada berbagai alasan siswa memilih bahasa Jerman: Para orang tua, yang pada gilirannya menentukan pilihan bahasa putra-putri masing-masing, sejak dulu merujuk kepada peluang pendidikan dan kerja yang lebih baik. Selain itu, kelas yang mengajarkan bahasa Jerman sampai sekarang biasa dipandang sebagai kelas yang lebih berprestasi. Siswa dari keluarga migran pun melihat pilihan bahasa Jerman sebagai cara untuk mencapai status sosial lebih tinggi. Goethe-Institut Prancis menyelenggarakan kegiatan promosi berkelanjutan untuk bahasa Jerman, dan bersama perkumpulan guru bahasa Jerman, organisasi perantara dan mitra lain, perkumpulan budaya, serta kementerian pendidikan Prancis berperan besar untuk membuat bahasa Jerman menjadi menarik. Atas kerja sama dengan kementerian pendidikan Prancis, brosur promosi yang menjelaskan manfaat berbahasa Jerman setiap tahun diperbarui dan dibagikan di semua sekolah di Prancis.

Sebagai tindak lanjut keputusan Dewan Menteri Jerman-Prancis bulan Oktober 2004, mulai 2006 ujian Deutsches Sprachdiplom der Kultusministerkonferenz Stufe I (DSD I) tingkat A2 dan B1 diselenggarakan sebagai ujian kompetensi bahasa di sekolah. Pada tahun 2014, hampir 35.000 siswa mengikuti ujian tersebut di sekitar 2.300 sekolah. Selain itu ada 82 sekolah Prancis yang menawarkan Abitur dan Baccalauréat (AbiBac) sebagai sertifikat kelulusan ganda. Dalam rangka peringatan 50 tahun Perjanjian Elysée pada tahun 2013 disepakati untuk melanjutkan penyelarasan kedua sistem pendidikan.  Tahun 2014 dibuka cabang pendidikan Jerman-Prancis yang pertama di sebuah sekolah lanjutan kejuruan di Bordeaux.

Beragam program kunjungan dalam rangka pendidikan profesi dan tidak terhitung banyaknya kesempatan pertukaran menjadi daya tarik tambahan untuk memilih bahasa Jerman sebagai bahasa asing. Aneka program studi pada Sekolah Tinggi Jerman-Prancis pun merupakan argumen yang baik untuk menjadikan bahasa Jerman sebagai pilihan bahasa asing.

Survei tahun ini untuk pertama kali menghasilkan angka-angka yang akurat, meskipun belum menyeluruh, untuk sektor perguruan tinggi. Saat ini terdapat 1.203 mahasiswa yang terdaftar pada program studi germanistik di 33 perguruan tinggi dan 965 mahasiswa yang mengikuti pendidikan sebagai guru bahasa Jerman. Ada 125 perguruan tinggi yang menawarkan bahasa Jerman sebagai mata kuliah pendamping. Jumlah pembelajar bahasa Jerman di sektor ini sementara ini belum dapat dipastikan. DAAD turut membina program studi germanistik dan bahasa Jerman di perguruan tinggi Prancis melalui lebih dari 40 tenaga lektor, tapi juga menyediakan lektor ahli untuk bidang studi lain yang memiliki kaitan dengan Jerman.

Berbagai faktor (pensiun, peningkatan kebutuhan, dsb.) telah mengakibatkan berkurangnya jumlah guru bahasa Jerman sebanyak 25% pada sekolah-sekolah Prancis, dan menimbulkan kekurangan guru bahasa Jerman. Kementerian pendidikan telah mengambil tindakan, menyelenggarakan seleksi tambahan, dan merekrut lebih dari 200 guru bahasa Jerman tambahan. Goethe-Institut semakin intensif dilibatkan dalam pelatihan para guru baru tersebut. Pengajaran bahasa mitra sejak usia dini juga akan semakin dikembangkan. Agenda Jerman-Prancis merencanakan pendirian 200 tempat penitipan anak bilingual sampai tahun 2020.

Posisi bahasa Jerman di Federasi Rusia sejak sekitar tiga tahun terus stabil: 8-9% seluruh siswa belajar bahasa Jerman di sekolah. Meskipun demikian, angka absolut mengalami penurunan sejak survei terakhir tahun 2010. Secara keseluruhan ada sekitar 1,5 juta orang yang belajar bahasa Jerman saat ini, sementara lima tahun lalu jumlah totalnya masih sekitar 2,3 juta.

Di sektor sekolah, jumlah pembelajar bahasa Jerman menurun dari 1,6 juta siswa pada tahun 2010 menjadi 1,1 juta siswa. Ada beberapa hal yang menyebabkan penurunan itu. Terutama di kawasan rural, struktur persekolahan berubah pesat: Semakin banyak sekolah ditutup atau dilebur, sehingga jumlah sekolah yang menyediakan pelajaran bahasa asing terus menurun. Jumlah sekolah yang mengajarkan bahasa Jerman sebagai bahasa asing berkurang dari sekitar 22.600 pada tahun 2010 menjadi 16.800 saja. Sekolah-sekolah di perkotaan memperkuat kecenderungan tersebut dengan semakin sering menetapkan bahasa Inggris sebagai bahasa asing pertama.

Meskipun begitu, minat untuk belajar bahasa Jerman tetap besar. Ini terlihat dari persentase siswa yang belajar bahasa Jerman sebagai bahasa asing pertama (87% siswa yang belajar bahasa Jerman). ZfA dan Goethe-Institut membina 111 sekolah PASCH di Rusia. Pada tahun 2014, permintaan akan ujian Deutsches Sprachdiplom der KMK Stufe I (DSD I) di sekolah-sekolah binaan ZfA naik sebesar 68% dibandingkan tahun sebelumnya. 971 siswa mengikuti ujian DSD I dan 648 siswa mengikuti ujian DSD II pada tahun tersebut. Selain itu terdapat sekitar 1.000 kemitraan sekolah antara Jerman dan Rusia, yang berperan besar dalam memajukan dialog di kalangan muda.

Sampai sekarang, sekolah-sekolah Rusia tetap tidak mewajibkan siswa belajar bahasa asing kedua, namun menyarankannya sesuai standar pendidikan yang baru. Ini merupakan salah satu keberhasilan kegiatan promosi seperti kampanye bahasa ”Lern Deutsch“ yang diselenggarakan oleh Goethe-Institut. Dilihat dari sudut itu, perkembangan bahasa Jerman sebagai bahasa asing kedua termasuk positif. Di antara bahasa-bahasa yang diajarkan sebagai bahasa asing kedua, bahasa Jerman menduduki peringkat pertama dengan 38%.

Analog dengan perkembangan di sektor sekolah, banyak universitas dilebur atau ditutup dalam rangka reformasi bidang pendidikan. Pihak yang diuntungkan adalah universitas dengan fokus ilmu pengetahuan alam, sementara pihak yang dirugikan adalah universitas berfokus ilmu humaniora yang kekurangan dana. Perkembangan ini mengakibatkan berkurangnya jurusan sastra dan bahasa Jerman, serta menurunnya jumlah mahasiswa yang memilih bahasa Jerman sebagai bidang studi utama. Selain itu juga terjadi pengurangan yang signifikan dalam pengadaan beasiswa untuk bidang germanistik. Untuk menghadapi hal ini, DAAD membantu program studi germanistik di perguruan tinggi Rusia dengan menyediakan 35 lektor dan sejumlah proyek.  Sementara itu, posisi bahasa Jerman dalam konteks pengajaran bahasa asing sebagai pendamping kuliah serta dalam konteks bahasa asing kedua relatif stabil, meskipun dalam hal pertama bersaing ketat dengan bahasa Inggris, sama seperti di sektor sekolah.  Berlainan dengan sektor sekolah tidak terdapat statistik resmi untuk sektor perguruan tinggi, sehingga data diambil dari survei di berbagai perguruan tinggi Rusia.

Untuk tahun-tahun mendatang, angka-angka di atas diperkirakan akan stabil pada level tersebut (dengan asumsi kondisi dasar tetap sama). Tetapi untuk itu diperlukan upaya tambahan di bidang pendidikan dan pelatihan guru bahasa Jerman, agar baik ketersediaan tenaga pengajar maupun kualitas proses belajar dapat terjamin. Semua organisasi perantara dan mitra telah bersepakat untuk memberi perhatian kepada orientasi profesi dan studi pada pengajaran bahasa Jerman di sektor universitas maupun sekolah, sehingga motivasi untuk belajar bahasa Jerman dapat ditingkatkan dan perkembangan negatif dalam sistem pendidikan negeri dapat dihalau.

Bahasa Jerman tetap merupakan bahasa asing favorit ketiga di AS, baik di sektor sekolah maupun di sektor perguruan tinggi. Meskipun demikian, popularitas bahasa Jerman cenderung menurun jika dibandingkan dengan jumlah program dan pertumbuhan penduduk di AS.

Pengamatan terhadap perkembangan bahasa Jerman sebagai bahasa asing di AS menunjukkan bahwa minat untuk belajar bahasa ini tergantung kepada faktor-faktor geopolitik dan sosio-ekonomi. Faktor keturunan Jerman, yang sampai akhir Perang Dunia I masih dapat dianggap sebagai jaminan seseorang akan belajar bahasa orang tua dan leluhurnya, kini nyaris tidak lagi berperan dalam memilih bahasa asing yang akan dipelajari.  Di samping itu, pengajaran bahasa asing tidak diprioritaskan dalam kebijakan sekolah dan pendidikan di AS. Hanya sekitar 20% siswa AS mengikuti pelajaran bahasa asing, yang di tingkat high school sering hanya dapat diikuti selama dua tahun saja. Sejumlah sekolah yang menyelenggarakan pendidikan dalam bahasa Jerman, baik secara purnawaktu maupun secara khusus pada hari Sabtu, memungkinkan proses belajar yang lebih intensif.

Di sektor sekolah, jumlah absolut pembelajar bahasa Jerman stabil pada angka 400.000 siswa sejak survei terakhir pada tahun 2010. Bahasa Jerman menempati peringkat ketiga di antara bahasa asing yang dipelajari di sekolah, di belakang bahasa Spanyol dengan 6,5 juta pembelajar dan bahasa Prancis dengan 1,3 juta pembelajar. Secara bersamaan, banyak program bahasa Jerman dihentikan akibat pemotongan anggaran di tingkat negara bagian maupun di tingkat lokal, sehingga sekolah-sekolah terpaksa membatasi jumlah program bahasa yang ditawarkan. Faktor lain adalah munculnya persaingan yang semakin kuat dari bahasa lain, misalnya saja bahasa Tionghoa.

Namun pada banyak sekolah yang masih menyelenggarakan program bahasa Jerman, jumlah siswa yang mengikuti program tersebut justru bertambah dibandingkan lima tahun lalu. Jika memang ada minat, terutama di pihak orang tua, program bahasa Jerman pun berkembang. Untuk menjangkau kelompok ini – para pengambil keputusan pribadi (orang tua, siswa) dan pengambil keputusan struktural di sektor sekolah (kepala sekolah, pembimbing karier) – diadakan kegiatan pembangkit motivasi (DaF-Jugendportal, tur musik, dsb.) oleh organisasi perantara Jerman, kerja lobi dan penyampaian informasi dalam konteks kebijakan pendidikan (mis. Netzwerk Deutschberater USA), serta kampanye promosi Goethe-Institut seperti „Just Add German“. Yang tidak kalah penting adalah program pelatihan untuk guru bahasa Jerman, khususnya program pembinaan guru muda.

Situasi di sektor perguruan tinggi harus ditelaah dengan cermat. Di antara sekitar 21 juta mahasiswa college dan universitas di Amerika saat ini terdapat sedikit di atas 96.000 yang belajar bahasa Jerman, yaitu sekitar 8.000 mahasiswa germanistik dan sekitar 88.000 mahasiswa yang belajar bahasa Jerman sebagai mata kuliah pendamping. Dengan demikian tercatat peningkatan sebesar 2,2% dibandingkan survei terakhir. Namun dalam perbandingan dengan jumlah keseluruhan pembelajar bahasa asing di universitas dan college di Amerika Serikat, jumlah pembelajar bahasa Jerman menunjukkan penurunan (dari 11,3% pembelajar bahasa asing di tahun 1990 menjadi 5,7% di tahun 2009). Dengan kata lain, meskipun terjadi peningkatan pada jumlah absolut, persentase mahasiswa yang belajar bahasa Jerman cenderung menurun. Sayangnya, untuk beberapa tahun ke depan patut diperkirakan bahwa bahasa Jerman akan semakin disaingi oleh bahasa-bahasa lain yang ditawarkan sebagai mata kuliah bahasa asing di perguruan tinggi.

Pengajaran bahasa Jerman di sektor perguruan tinggi menjadi bagian penting dalam kurikulum terutama karena sebagian besar perguruan tinggi di AS menetapkan bukti kompetensi bahasa asing setara dua tahun pembelajaran bahasa pada level college sebagai syarat kelulusan, sehingga mata kuliah bahasa Jerman menjadi mata kuliah wajib pilihan bagi mayoritas pembelajar bahasa Jerman.

Di sektor perguruan tinggi, DAAD menjalankan strategi ganda untuk DaF, yang meliputi upaya pembinaan bahasa Jerman secara langsung (mis. kursus bahasa, pelatihan guru, pengaitan bahasa Jerman dengan ilmu-ilmu rekayasa) serta berbagai langkah untuk meningkatkan daya saing bahasa Jerman dalam konteks pengajaran bahasa asing di universitas melalui pengadaan konten berorientasi Jerman yang menarik.

Jumlah orang yang belajar bahasa Jerman di Brasil menunjukkan perkembangan positif. Terutama kaum dewasa muda semakin sadar bahwa penguasaan bahasa asing berpengaruh besar terhadap kesempatan kerja dalam perekonomian global. Keinginan untuk belajar bahasa Jerman juga ditopang oleh minat terhadap kerja sama ilmiah serta oleh kehadiran perusahaan Jerman di Brasil.

Secara keseluruhan terdapat sekitar 135.000 orang yang belajar bahasa Jerman di Brasil. Satu keistimewaan adalah keberadaan penutur bahasa Jerman di daerah-daerah dengan banyak imigran asal Jerman. Bahasa Jerman menjadi bahasa resmi kedua di beberapa kota di negara bagian Espírito Santo, Paraná, Rio Grande do Sul, dan Santa Catarina, dan sejumlah kota menetapkan pelajaran bahasa Jerman sebagai mata pelajaran wajib di sekolah. Namun hal tersebut berpengaruh kecil saja terhadap perkembangan positif jumlah orang yang belajar bahasa Jerman dewasa ini. Peran bahasa Jerman sebagai bahasa imigrasi justru cenderung menurun.

Bertambahnya jumlah orang yang belajar bahasa Jerman sebanyak 30%, sekalipun dari level awal yang rendah, terutama berlandaskan semakin internasionalnya hubungan perekonomian dan ilmu pengetahuan, yang membuat pembelajaran berbagai bahasa asing, termasuk bahasa Jerman, menjadi lebih menarik. Peningkatan minat di sektor sekolah antara lain dapat ditelusuri ke proyek jangka panjang seperti prakarsa Menteri Luar Negeri Steinmeier "Sekolah: Mitra Menuju Masa Depan“, program pelatihan guru, serta Tahun Jerman di Brasil 2013/2014 dengan moto "Tempat gagasan bertemu“.

Di sektor universitas, sebagian besar orang yang belajar bahasa Jerman (sekitar 10.000 mahasiswa) mengambil bahasa Jerman sebagai mata kuliah pendamping. Ini dengan jelas mencerminkan minat belajar bahasa untuk tujuan tertentu serta upaya untuk memastikan kompatibilitas di sektor perguruan tinggi. Salah satu elemen sentral adalah program pemerintah Brasil “Sains tanpa Batas”, yang bertujuan menginternasionalkan dunia ilmu pengetahuan dan perguruan tinggi. Selama tahap pertama dari tahun 2001 sampai 2014, program beasiswa itu membawa lebih dari 4.000 mahasiswa dan sarjana ke Jerman, dan semuanya wajib meraih dan membuktikan kompetensi bahasa terlebih dahulu. Pihak perguruan tinggi kewalahan menghadapi permintaan itu karena kekurangan dosen dengan kualifikasi yang diperlukan.

Jumlah pembelajar di sektor pendidikan orang dewasa meningkat hampir dua kali lipat. Di sektor ini ada lebih dari 42.000 orang yang sedang belajar bahasa Jerman.  Permintaan yang besar itu terkait antara lain dengan perkembangan pendidikan secara keseluruhan, tetapi juga dengan permintaan terhadap bahasa Jerman di perguruan tinggi. Minat terhadap kursus bahasa secara keseluruhan meningkat pesat di Brasil selama beberapa tahun terakhir. Ini juga berlaku bagi bahasa Jerman dengan alasan yang telah disebutkan di atas.

Kelompok terbesar di antara para peserta kursus bahasa Jerman di luar perguruan tinggi adalah kaum mahasiswa. Di samping memperdalam kemampuan bahasa yang diperlukan untuk memahami materi kuliah (mis. sastra, musik, filsafat), para mahasiswa juga semakin giat menambah kualifikasi kerja melalui penguasaan bahasa Jerman.   Faktor tersebut kini semakin penting mengingat jumlah mahasiswa yang begitu besar (4,5 juta mahasiswa pada universitas berbasis kehadiran fisik).

Tantangan utama untuk pembinaan DaF adalah mengonsolidasi permintaan yang meningkat pesat itu melalui program kualifikasi dan pelatihan yang efisien bagi guru bahasa Jerman serta pengembangan struktural program bahasa dan pembinaan bagi pembelajar bahasa Jerman. Di sini aktivitas DAAD, Goethe-Institut, serta ZfA bersinergi melalui upaya pembinaan terarah di bidang pengajaran bahasa Jerman, germanistik, dan pendidikan guru bahasa di perguruan tinggi, serta pelatihan guru bahasa Jerman.

Pemerintah Brasil berencana meluncurkan program “Bahasa tanpa Batas” sebagai pendamping program internasionalisasi “Sains tanpa Batas”, dan dalam konteks ini akan membina antara lain bahasa Jerman secara terarah. Ini membuka kesempatan untuk mengonsolidasikan pertumbuhan minat terhadap bahasa Jerman secara berkelanjutan.

Pertumbuhan jumlah pembelajar bahasa Jerman di sektor sekolah, perguruan tinggi, dan pendidikan orang dewasa menjadi bukti semakin pentingnya bahasa Jerman di Republik Rakyat Tiongkok. Ada beragam latar belakang dan penyebab di balik minat yang terus meningkat itu. Pada dasarnya, pendidikan sejak dulu dianggap penting dalam masyarakat Tiongkok. Berkat perkembangan ekonomi yang dinamis kini tersedia semakin banyak sumber daya pendidikan.

Di sektor perguruan tinggi saja terjadi peningkatan angka absolut sebesar 24% sejak survei terakhir tahun 2010. Bahasa Jerman termasuk bahasa asing kedua favorit di samping bahasa Jepang. Secara keseluruhan terdapat hampir 45.000 pembelajar bahasa Jerman dewasa ini, yang pada dasarnya dapat dibagi ke dalam dua kelompok besar. Kelompok pertama belajar bahasa Jerman dalam rangka kursus bahasa, sebagai mata kuliah pendamping, mata kuliah wajib atau pilihan, atau sebagai pilihan mata kuliah pada program studi ekstensi. Kelompok kedua meliputi mahasiswa germanistik, lulusan pendidikan juru bahasa, atau program studi bahasa Jerman dalam kombinasi dengan program studi lain. Pertumbuhan jumlah pembelajar bahasa Jerman juga tercermin dalam peningkatan jumlah program studi germanistik. Jika pada tahun 2009 terdapat kurang dari 60 perguruan tinggi yang menawarkan program studi germanistik, pada tahun 2014 sudah ada 104 perguruan tinggi di seluruh Tiongkok. Jumlah mahasiswa germanistik saat ini diperkirakan sebanyak 22.000 orang. Mahasiswa Tiongkok merupakan kelompok terbesar mahasiswa asing di Jerman: Pada semester musim dingin 2012/13 tercatat 25.564 orang Tiongkok yang terdaftar pada perguruan tinggi Jerman. Pada tahun 2014 hampir 9.000 calon mahasiswa Tiongkok mengikuti ujian TestDaF, yang oleh semua perguruan tinggi Jerman diakui sebagai bukti kompetensi bahasa untuk diterima sebagai mahasiswa.

Di sekolah menengah, bahasa Jerman adalah bahasa asing Eropa yang paling banyak dipelajari (selain bahasa Inggris). Dewasa ini terdapat 123 sekolah di seluruh negeri yang menawarkan mata pelajaran bahasa Jerman. Selain di Hongkong, semua sekolah dibina oleh Goethe-Institut dan ZfA. Hal ini terkait dengan peluncuran dan perluasan inisiatif PASCH dan dengan meningkatnya permintaan akan bahasa asing selain bahasa Inggris. Dengan adanya dukungan terhadap multilingualisme sebagaimana tercermin dalam kebijakan pendidikan, pilihan orang tua sering jatuh kepada bahasa Jerman (antara lain karena citra Jerman yang senantiasa positif). Dari sudut pandang para kepala sekolah, penambahan bahasa Jerman sebagai mata pelajaran yang ditawarkan itu sejalan dengan upaya internasionalisasi sekolah, yang kini semakin digalakkan. Kegiatan seperti Tahun Bahasa Jerman-Tiongkok 2013/14 sebagai kampanye promosi bahasa Jerman turut meningkatkan visibilitas dan penghargaan untuk bahasa Jerman.

Dalam lima tahun terakhir, sektor perguruan tinggi mencatat peningkatan pesat jumlah kerja sama, kemitraan antaruniversitas, dan kemitraan antarjurusan germanistik, dan juga kehadiran beberapa perguruan tinggi Jerman di Tiongkok. Satu contoh aktual adalah biro penghubung TU Darmstadt yang baru-baru ini dibuka di Universitas Tongji Shanghai. Peran penting lainnya dipegang berbagai proyek percontohan Tiongkok-Jerman di sektor perguruan tinggi, mis. saja Kolese Perguruan Tinggi Tiongkok-Jerman (CDHK) dan Perguruan Tinggi Tiongkok-Jerman untuk Sains Terapan (CDHAW) di Shanghai, yang menyelenggarakan perkuliahan bilingual dengan program bachelor ganda Jerman-Tiongkok yang terakreditasi.  Secara bersamaan diselenggarakan aneka acara dan konferensi dalam rangka pembinaan pertukaran akademis.

Di Tiongkok, Jerman kini dipandang sebagai tempat kuliah nonbahasa Inggris yang terpenting. Tren kuliah di Jerman didukung oleh beragam program beasiswa (program DAAD), tetapi juga oleh program bilateral seperti „Program Beasiswa Postdoc Tiongkok-Jerman” untuk ilmuwan muda, yang memungkinkan kunjungan ke Jerman dalam rangka riset.

Di luar perguruan tinggi pun, jumlah pembelajar bahasa Jerman di sektor pendidikan orang dewasa dan pendidikan ekstrakurikuler menunjukkan peningkatan. Serangkaian kegiatan berlingkup luas pada tahun-tahun lalu mendapat sambutan hangat dan membangkitkan perhatian masyarakat Tiongkok terhadap Jerman.

Dalam tahun-tahun mendatang patut diperkirakan bahwa peningkatan jumlah pembelajar Jerman akan berlanjut seperti sekarang, sepanjang situasi keseluruhan tetap sama. Namun untuk mengiringi peningkatan itu diperlukan upaya tambahan dalam hal pendidikan guru bahasa Jerman, guna mengamankan ketersediaan tenaga pengajar dan menjamin kualitas pengajaran.

India merupakan negara yang dicirikan oleh multilingualisme: Di samping bahasa Hindi dan bahasa Inggris terdapat 21 bahasa lain yang diakui di dalam konstitusi negara tersebut. Meskipun begitu, minat terhadap bahasa Jerman tetap melonjak di India selama beberapa tahun terakhir.

Ada beragam alasan untuk itu. Sejak dibukanya perekonomian India pada awal tahun 90-an dan menyusul perkembangan pesat yang terjadi sesudahnya, India berkepentingan untuk mendorong internasionalisasi dan berjejaring dengan para mitranya di semua sektor politik. Dengan demikian minat untuk belajar bahasa asing pun meningkat. Jerman salah satu mitra dagang terpenting India. Citra Jerman pada umumnya positif, dan teknologinya sangat disegani. Semakin banyak orang muda India yang ingin bekerja di salah satu dari sekitar 1.800 perusahaan Jerman di India, atau datang ke Jerman dalam rangka bekerja atau kuliah.

Pada tahun 2014 ada 107.000 siswa di sekitar 700 sekolah yang belajar bahasa Jerman di samping bahasa Inggris dan bahasa Hindi. Pada tahun 2010, baru ada 18.550 pembelajar bahasa Jerman di sekolah-sekolah. Pertumbuhan minat terhadap bahasa Jerman yang begitu pesat di sektor sekolah lanjutan dipicu antara lain oleh kegiatan PASCH. Sebagian besar di antara ke-58 sekolah PASCH di India yang dibina oleh Goethe-Institut dan ZfA merupakan sekolah swasta. Namun ada dua sekolah yang termasuk jaringan sekolah negeri Kendriya Vidyalaya Sangathan (KVS). Berkat prakarsa Goethe-Institut diputuskan bahwa bahasa Jerman akan diajarkan di seluruh jaringan tersebut. Pada bulan Agustus 2014, bahasa Jerman mulai diajarkan kepada 78.500 siswa di sekitar 500 sekolah KVS.

Kementerian Luar Negeri Jerman dan Goethe-Institut sedang melakukan pembicaraan intensif dengan pemerintah India dan jaringan sekolah KVS agar keberhasilan yang telah tercapai dapat berlanjut, sekalipun terjadi perubahan situasi politik setelah pemilihan anggota legislatif tahun 2014.

Dengan semakin banyaknya perguruan tinggi yang menawarkan bahasa Jerman/germanistik sebagai program studi, jumlah mahasiswa germanistik pun meningkat. Jumlah mahasiswa yang belajar DaF sebagai pendamping program studi utama tidak dapat dipastikan untuk tahun 2015.  Pada tahun 2010 tercatat sekitar 9.000 orang – dengan alasan yang telah disebutkan di atas patut diperkirakan bahwa di sini pun terjadi peningkatan pesat. Di samping membina germanistik klasik, DAAD juga memperhatikan tema-tema yang bersifat lebih aplikatif dan memberi bobot lebih besar kepada pengajaran bahasa Jerman sebagai bahasa asing dalam sistem perguruan tinggi India. Pengembangan pendidikan guru bahasa Jerman di tingkat universitas termasuk sasaran terpenting untuk jangka menengah, karena hanya dengan cara itu kebutuhan akan tenaga pengajar DaF berkualifikasi di India dapat dipenuhi secara berkelanjutan. Nota kesepahaman mengenai kerja sama di bidang ini telah ditandatangani dalam rangka konsultasi antarpemerintah Jerman-India pada tahun 2013.

Di masa mendatang pun, belajar bahasa asing akan sangat penting di India.  Ini tercermin antara lain dari jumlah pembelajar bahasa Jerman di semua Goethe-Institut dan Goethe-Sentra di India, yang mencatat pertumbuhan sebesar 36% selama lima tahun terakhir.

Negara-negara anggota ASEAN beserta negara-negara yang berasosiasi bertekad menjalin kerja sama yang lebih erat di bidang politik, ekonomi, dan kebudayaan. Pasar bersama ASEAN mulai diberlakukan pada akhir tahun 2015. Ini berarti bahwa dalam sistem pendidikan masing-masing negara anggota ASEAN, bahasa Jerman sebagai bahasa asing akan menghadapi tekanan persaingan yang lebih ketat dari bahasa-bahasa negara tetangga, yang akan dibina secara terarah.

Kawasan Asia Tenggara berpenduduk 600 juta jiwa, dan sebagian besar berusia di bawah 25 tahun. Jerman sejak dulu menjadi negara tujuan penting bagi golongan menengah – khususnya  dari Indonesia, Thailand, Vietnam, dan Filipina – yang mementingkan pendidikan dan perbaikan tingkat kehidupan.

Mayoritas pembelajar bahasa Jerman di negara-negara ASEAN tercatat di Indonesia dengan jumlah keseluruhan 187.000 orang, yang merupakan peningkatan sebesar 75%. Jumlah pembelajar bahasa Jerman di sekolah-sekolah naik signifikan sebanyak 52.500 orang. Minat besar terhadap bahasa Jerman juga terlihat pada jejaring ke-29 sekolah PASCH. Di sektor perguruan tinggi pun bahasa Jerman semakin populer. Bagi orang Indonesia, Jerman merupakan negara tujuan kuliah nomor satu di Eropa dan nomor lima di dunia.

Thailand menduduki peringkat kedua di antara negara-negara ASEAN dalam hal jumlah pembelajar bahasa Jerman dengan sekitar 13.000 orang. 70% dari mereka belajar di sektor universitas dan di sektor pendidikan orang dewasa. Berkat tradisi serta citra positif pendidikan dan perekonomian Jerman, pemerintah dan masyarakat Thailand memperlihatkan minat yang stabil terhadap bahasa Jerman, sehingga jumlah pembelajar bahasa Jerman pun menunjukkan peningkatan moderat. Pembentukan sejumlah program studi baru di perguruan tinggi, khususnya untuk bahasa Jerman yang bersifat teknis, serta meningkatnya minat terhadap bahasa Jerman dibandingkan terhadap bahasa Eropa lain patut dicatat secara positif.

Vietnam mengalami pertumbuhan jumlah pembelajar bahasa Jerman yang serupa dengan Indonesia (+50%), meskipun dengan jumlah absolut yang jauh lebih rendah. Bahasa Jerman sebagai bahasa asing (pertama atau) kedua di sekolah-sekolah umum baru resmi diberlakukan pada tahun 2013 melalui surat keputusan menteri. Goethe-Institut dan ZfA telah mendampingi kementerian pendidikan Vietnam pada tahun 2014 dalam rangka penyusunan kurikulum bahasa Jerman, dan membina 12 sekolah PASCH setempat. Multilingualisme dan dengan demikian juga bahasa asing kedua kini semakin dipentingkan, termasuk di sektor perguruan tinggi, misalnya pada Universitas Vietnam-Indonesia di Saigon. Meningkatnya permintaan di Jerman akan tenaga ahli di bidang kesehatan dan perawatan (lihat juga "Inisiatif Tenaga Ahli”) dalam rangka migrasi profesi menyebabkan semakin banyak orang Vietnam berminat kepada bahasa Jerman sebagai salah satu kualifikasi kunci.

Malaysia dan Singapura juga mencatat pertumbuhan jumlah pembelajar bahasa Jerman, masing-masing sebesar 77% dan 38%, dengan angka absolut yang rendah.

Di Filipina seluruhnya terdata 5.700 pembelajar bahasa Jerman. Sejak tahun 2011 ada kesepakatan dengan kementerian pendidikan yang memungkinkan bahasa Jerman sebagai bahasa asing diperkenalkan di sembilan sekolah negeri dan 25 tenaga pengajar mengikuti pelatihan oleh Goethe-Institut. Bertambahnya jumlah keseluruhan pembelajar bahasa Jerman disebabkan oleh meningkatnya permintaan akan kursus bahasa Jerman di kalangan tenaga perawat yang hendak bekerja di Jerman, oleh migrasi dalam rangka perkawinan, dan pada skala lebih terbatas juga oleh popularitas Jerman sebagai tempat kuliah.

Di Kamboja, bahasa Jerman sejauh ini hanya ditawarkan di Perkumpulan Kebudayaan Phnom Penh. Jumlah peserta kursus di sana meningkat 46% antara tahun 2011 dan 2014 menjadi 718 orang. Di sektor perguruan tinggi mulai terlihat minat untuk mata kuliah bahasa Jerman sebagai pendamping program studi utama.

Jumlah pembelajar bahasa Jerman di Laos sangat rendah, yaitu 38 orang saja. Di Myanmar saat ini terdapat 590 orang yang belajar bahasa Jerman, 278 di antaranya di sektor perguruan tinggi dan 312 di Goethe-Institut yang dibuka tahun 2014. Citra Jerman sebagai tempat kuliah dan riset berperan penting sebagai motivasi. Hal itu tercermin dari jumlah pelamar yang meningkat untuk beasiswa DAAD, serta dari semakin besarnya minat untuk menjalin kerja sama dengan perguruan tinggi Jerman.

Jumlah pembelajar bahasa Jerman di Turki berkembang dinamis, terutama di sektor sekolah. Rangkaian reformasi terhadap sistem sekolah turut berperan sehingga pengajaran bahasa Jerman sebagai bahasa asing kini memiliki bobot jauh lebih besar dibandingkan beberapa tahun lalu.

Undang-Undang Reformasi Sekolah 2012 menetapkan bahwa pengajaran bahasa asing di sekolah negeri menjadi wajib mulai kelas 2 (sebelumnya mulai kelas 4) dengan dua jam pelajaran per minggu, dan mulai sekolah menengah dengan empat jam pelajaran per minggu. Bahasa Inggris pertama di sektor sekolah hampir selalu bahasa Inggris. Bahasa asing kedua dapat diambil sebagai mata pelajaran pilihan di sekolah menengah mulai kelas 5. Pada ke-2.000 sekolah lanjutan Anadolu, pelajaran bahasa asing diselenggarakan lebih intensif, dan bahasa asing kedua menjadi mata pelajaran wajib pilihan mulai kelas 9, dengan setidaknya dua jam pelajaran per minggu. Bahasa Jerman menjadi bahasa pilihan asing kedua di lebih dari 90% sekolah lanjutan Anadolu.

Di sekitar 40 sekolah lanjutan Anadolu, bahasa Jerman juga ditawarkan sebagai bahasa asing pertama dan kecuali itu sebagai bahasa pengantar untuk mata pelajaran lain. Seorang konsultan dari ZfA serta 22 tenaga pengajar dari Jerman menyokong pengajaran bahasa Jerman sebagai bahasa asing dan sebagai bahasa pengantar ini. Di luar itu ada 20 sekolah mitra yang dibina oleh Goethe-Institut serta 17 sekolah mitra yang dibina oleh ZfA dalam rangka inisiatif PASCH. Pada tahun 2014, 465 siswa meraih sertifikat Deutsches Sprachdiplom (DSD) Stufe I dan 228 siswa meraih sertifikat SDS Stufe II, yang diakui sebagai bukti kompetensi bahasa untuk diterima di perguruan tinggi Jerman.

Sejak tahun 2013 sampai saat ini, kementerian pendidikan telah menempatkan 1.300 guru bahasa Jerman, menyusul stagnasi yang sempat berlangsung selama beberapa tahun. Goethe-Institut terus melakukan pembinaan dalam bentuk program pelatihan ekstensif di bidang kebahasaan dan kependidikan, yang dikembangkan melalui kerja sama erat dengan kementerian pendidikan Turki, guna memastikan para guru bahasa tersebut dapat bekerja secara optimal sejak awal.

Semasa kuliah, para mahasiswa diharuskan mempelajari satu bahasa asing wajib, namun tidak ada data mengenai bahasa asing mana diajarkan atau dipelajari dengan kuantitas seperti apa.

Sektor perguruan tinggi di Turki berkembang dengan kecepatan yang mengesankan. Jaringan universitas negeri, misalnya, berniat untuk setiap lima tahun menambahkan 250.000 kursi untuk program bachelor, guna mengimbangi permintaan akan pendidikan tinggi yang naik pesat dan menyambut internasionalisasi Turki sebagai tempat kuliah dan riset.  Ini ditambah lagi dengan wawasan internasional kaum elite terpelajar, dan dengan keinginan banyak mahasiswa untuk belajar di luar negeri selama paling tidak beberapa semester. Sejak awal keikutsertaan Turki pada program kunjungan Eropa, Jerman menempati salah satu peringkat teratas sebagai negara tujuan untuk para mahasiswa Erasmus asal Turki: Pada tahun akademis 2012/13 ada 2.472 mahasiswa Turki yang datang ke Jerman.

DAAD membantu sektor perguruan tinggi dengan jaringan yang menjangkau seluruh negeri. Para lektor dan asisten bahasa DAAD mengajar di 18 universitas Turki dan juga di Universitas Turki-Jerman di Istambul, yang diresmikan pada bulan September 2013.

Pengajaran bahasa Jerman sebagai bahasa asing tetap berperan besar dalam konteks migrasi karena perkawinan, meskipun angka total di sektor ini mengalami penurunan. Di samping Goethe-Institut, penyelenggara kursus swasta kini semakin berperan di sini. Secara keseluruhan, ketiga Goethe-Institut di Turki menunjukkan permintaan akan kursus bahasa Jerman yang masih terus meningkat.

Di tengah masa pergolakan politik dan merosotnya turisme, jumlah pembelajar bahasa Jerman di Mesir menjadi dua kali lipat dalam lima tahun terakhir, dari 120.000 menjadi 250.000 orang.

Satu alasan utama untuk ini adalah perkembangan demografis Faktor lain mungkin reformasi pendidikan dalam konstitusi 2014, yang menyatakan kesempatan mengenyam pendidikan wajib disediakan bagi semua warga. Terutama di sektor sekolah jumlah pembelajar bahasa Jerman mengalami peningkatan. Semakin banyak siswa memilih bahasa Jerman, sehingga untuk tahun ajaran 2014/15 tercatat 229.420 pembelajar bahasa Jerman di sekolah-sekolah. Bahasa Jerman sebagai bahasa asing diajarkan di sekitar 5% sekolah Mesir, tetapi hanya menjangkau 16 dari ke-30 wilayah administrasi. Di seluruh negeri terdapat 32 sekolah PASCH yang dibina oleh ZfA dan Goethe-Institut.

Namun perlu diadakan pembedaan berdasarkan tingkat kompetensi bahasa serta status sebuah bahasa asing: Hanya 3% sekolah dengan pelajaran bahasa Jerman menawarkan bahasa Jerman sebagai bahasa asing pertama dan mencapai tingkat kompetensi B2 – pada dasarnya, ini adalah ke-7 sekolah luar negeri Jerman dan ke-7 sekolah DSD. Jumlah ijazah DSD (DSDI/DSDII) hanya menunjukkan peningkatan terbatas, dengan ujian DSD diselenggarakan terutama di sekolah-sekolah luar negeri Jerman. Di luar itu, Goethe-Institut membina 18 sekolah yang dikenal sebagai Sekolah Fit, tempat pelajaran bahasa Jerman diperhatikan secara khusus.

Mayoritas sekolah negeri dan swasta dengan pelajaran bahasa Jerman menawarkannya sebagai mata pelajaran wajib pilihan di kelas 10 sampai 12. Kompetensi bahasa di sini mencapai tingkat A1, yang sama dengan tingkat kompetensi yang ditargetkan dalam ujian akhir sekolah lanjutan di Mesir.

Jumlah orang yang belajar bahasa Jerman di perguruan tinggi nyaris tidak berubah dibandingkan tahun 2010. Sekitar sepertiga dari seluruh mahasiswa yang belajar bahasa Jerman merupakan mahasiswa germanistik. Program studi itu telah mapan di perguruan tinggi Mesir dan menghasilkan lulusan berkualitas menonjol di bidang penjurubahasaan dan penerjemahan, tetapi juga di sub-bidang germanistik lainnya.

Permintaan akan pendidikan bahasa asing sebagai pendamping program studi utama (8.480 mahasiswa) meningkat dibandingkan tahun 2010, sementara jumlah mahasiswa program pendidikan guru bahasa Jerman (287) sangat rendah, mengingat kuliah germanistik tanpa pendidikan tambahan di bidang pedagogi pun diakui sebagai kualifikasi untuk profesi guru. Tingkat kompetensi bahasa yang berhasil diperoleh di akhir program studi ini rata-rata A2.  Namun perkembangan jumlah guru bahasa Jerman tidak sejalan dengan kebutuhan yang meningkat. Profesi guru dipandang tidak menarik, karena gajinya sangat rendah dalam perbandingan di tingkat nasional. Namun secara keseluruhan, bahasa Jerman sebagai bahasa asing semakin populer di universitas, yang antara lain terkait dengan semakin pentingnya Jerman sebagai tempat kuliah.

Dengan alasan ini pula, jumlah pembelajar di sektor pendidikan orang dewasa ikut meningkat. Namun akibat kemunculan banyak pesaing baru, Goethe-Institut justru menghadapi penurunan dalam jumlah peserta kursus. Ini terlihat jelas dari lonjakan permintaan ujian eksternal di Goethe-Institut. Pemegang kualifikasi maupun lulusan perguruan tinggi memerlukan ujian Goethe-Institut untuk kuliah, untuk kualifikasi lanjutan, atau untuk mulai bekerja di Jerman. Lonjakan permintaan terjadi terutama untuk ujian B2, yang dipersyaratkan untuk aktivitas sebagai dokter tamu, dan dengan demikian untuk kualifikasi sebagai dokter spesialis. Permintaan untuk ujian Start Deutsch 1 dalam rangka migrasi karena perkawinan juga mengalami peningkatan.

Kamerun adalah negara di kawasan Subsahara di Afrika, tempat proses belajar-mengajar bahasa Jerman berlangsung pada level tertinggi.

Jumlah pembelajar bahasa Jerman di Kamerun terus meningkat sejak survei pertama pada tahun 2000. Jumlah keseluruhan tahun 2015 diperkirakan 230.000 orang, yang merupakan peningkatan sekitar 10% dibandingkan tahun 2010. Akibat perkembangan demografi, jumlah siswa keseluruhan juga meningkat selama kurun waktu survei. Bahasa Jerman sebagai bahasa asing berhasil mempertahankan dan mengembangkan posisinya, meskipun menghadapi persaingan sejumlah bahasa lain (bahasa Spanyol, Tionghoa, Arab, Italia).

Seluruhnya ada 2.133 sekolah yang menawarkan pelajaran bahasa Jerman. Meningkatnya jumlah sekolah yang mengajarkan bahasa Jerman sebagai bahasa asing terkait erat dengan liberalisasi kebijakan persekolahan, yang memungkinkan pendirian banyak sekolah swasta baru selama lima tahun terakhir. Dalam kurun waktu yang sama juga terjadi diversifikasi pelajaran bahasa yang ditawarkan di Kamerun. Sama seperti banyak negara Afrika, Kamerun menghadapi situasi kebahasaan yang kompleks. Bahasa resmi di Kamerun adalah bahasa Inggris dan bahasa Prancis. Secara tradisional, bahasa Spanyol dan bahasa Jerman menjadi bahasa asing non-nasional pertama dalam kurikulum. Menyusul langkah liberalisasi, dewasa ini bahasa Italia, Arab, dan Tionghoa pun dapat secara resmi dimasukkan ke dalam kurikulum reguler. Sejak satu tahun lalu, beberapa sekolah percontohan juga menawarkan pelajaran untuk berbagai bahasa nasional Kamerun. Di dalam sistem sekolah berbahasa Prancis yang berlaku di Kamerun, bahasa Jerman merupakan bahasa asing pertama, di samping bahasa Spanyol, yang diajarkan setelah bahasa Inggris dan bukan salah bahasa nasional resmi.

Universitas Jerman semakin giat berupaya menarik mahasiswa dari Kamerun. Pada semester musim dingin 2012/13 terdapat 5.833 mahasiswa asal Kamerun yang terdaftar di berbagai universitas Jerman. Jumlah ini hampir menyamai jumlah mahasiswa asal Prancis. Kedua kelompok ini masing-masing menyumbang 2,9% dari semua mahasiswa asing di Jerman. Selama Pameran Perguruan Tinggi Jerman Ke-1 di bulan Juni 2014, 1.300 peminat semua jurusan dapat bertemu langsung dengan perwakilan lima perguruan tinggi Jerman untuk meminta informasi mengenai program studi masing-masing. Format ini akan semakin dikembangkan di masa mendatang.

Melalui kursus bahasanya, Goethe-Institut Kamerun secara terarah menyiapkan calon mahasiswa untuk kuliah di Jerman. Jumlah peserta kursus meningkat sekitar 65% dari tahun 2010 sampai 2014, dan kini mencapai 3.000 pendaftar per tahun.

DAAD mempunyai pusat informasi di ibu kota, dan turut berkontribusi terhadap keberhasilan pembelajaran bahasa Jerman dengan menyediakan dua lektor untuk jurusan germanistik di Universitas Yaoundé I dan Universitas Djang (sejak 2013).

Pada tahun akademik 2008/2009 didirikan pusat pelatihan guru di Maroua. Fasilitas tersebut menerima rata-rata 30 mahasiswa per tahun untuk mata pelajaran bahasa Jerman, yaitu 20 pada tingkat sarjana dan 10 pada tingkat master. Saat ini ada sekitar 300 mahasiswa calon guru untuk mata pelajaran bahasa Jerman. Sekitar 120 mahasiswa tingkat 1 sampai 3 terdaftar pada program studi bahasa Jerman umum di Universitas Maroua, yang mulai beroperasi tahun 2012.

Pendidikan guru bahasa Jerman yang relatif baik di Kamerun, jaringan pengawas DaF dan guru bahasa yang terorganisasi secara efektif, serta kerja sama yang mapan dengan kelima sekolah PASCH membentuk kerangka yang baik bagi pembinaan bahasa Jerman sebagai bahasa asing.
Top