Akses cepat:

Langsung ke konten (Alt 1) Langsung ke menu utama (Alt 2)

Kehidupan sehari-hari di Jerman: Edisi permainan
“Jangan kesal – ini hanya permainan“

Sebuah kolase dengan gambar-gambar elemen permainan. Sebuah foto kartu UNO dan foto seorang anak laki-laki kecil yang kesal saat bermain permainan Mensch-Ärgere-Dich-Nicht.
Grafik: Jennifer Engl | Illustrationen: Canva.com | Fotos: Links: picture alliance / dpa-tmn | Christin Klose; Rechts: picture alliance / Westend61 | Mareen Fischinger

Permainan itu di mana-mana sama – tapi tidak pernah identik. Permainan papan “Mensch ärgere Dich nicht” (He, jangan kesal) dan “Bargis” menunjukkan bukan saja betapa permainan diwarnai oleh budaya, tapi juga bagaimana sesuatu yang asing bisa terasa akrab. Sebuah kunjungan ke dunia permainan bersama penulis Ahmad Kalaji.

Von Ahmad Kalaji

Sekarang lagi musim panas, musim favorit saya. Saya melenggang menyusuri jalanan di kota Köln, ditemani oleh kicauan burung, sementara pikiran saya kembali ke masa sebelum kedatangan saya ke Jerman. Sudah sepuluh tahun saya tinggal di Jerman dan kadang-kadang saya merasa bahwa meja permainanlah yang paling membantu saya mengenal negeri ini. Lewat Mensch ärgere Dich nicht dan Bargis, lewat sahra dan malam bermain, saya belajar betapa kedekatan itu bisa tampak berbeda – dan kadang-kadang terasa begitu mirip.

Mari bermain

Suriah, pukul 22.00, pada suatu Kamis malam. Bel pintu nenek saya berdering tanpa henti, dan para anggota keluarga berdatangan satu per satu. Tidak lama kemudian semuanya sudah menyebar di dapur, selasar, ruang duduk dan teras, sampai akhirnya semua sudah hadir dan sahra (سَهْرَة) pun dimulai, yaitu acara kumpul-kumpul setelah gelap yang sering kali berlangsung sampai larut malam.

Awalnya selalu sama: kopi selamat datang, kue manis, dan obrolan tentang keseharian, politik dan masyarakat. Tapi lambat laun para tamu mulai gelisah, sampai akhirnya kalimat magis pun terdengar: “Kita jadi main?” Seketika suasana berubah. Kursi-kursi digeser, sebuah meja bundar berukuran besar dikosongkan. Orang-orang bergegas kian kemari sampai pada gilirannya sema menemukan tempat masing-masing. Ini sebuah ritual yang sudah menjadi bagian dari sahra.

Apa pun sah dalam permainan dan urusan asmara

Di ujung ruangan, di samping pintu balkon, ada empat orang yang duduk di meja kayu besar sambil bermain trex, sebuah permainan strategi dengan kartu remi dari wilayah Levant, yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari sahra. Bibi tertua saya melawan paman saya, ibu saya melawan sepupu saya. Meskipun masih muda, sepupu saya boleh ikut bermain karena sudah lama berlatih. Di meja lain, kakek saya dengan sabar menunggu lawan. Ia sudah duduk menghadapi papan tawleh, sebuah permainan yang mirip backgammon, sementara pipa shisha juga sudah dinyalakan. Sambil tersenyum simpul ia berkata, “Aku belum pernah kalah main tawleh, jadi siap-siap saja.”

Nenek saya menyukai bargis (برجيس), sebuah permainan yang mirip permainan Mensch-ärgere-Dich-nicht dan dimainkan dengan bidak logam serta kulit kerang di atas alas kain. Permainan ini kadang-kadang berubah menjadi turnamen sungguhan yang memperebutkan hadiah utama malam itu. Semuanya duduk berdampingan di lantai. Anak-anak dan orang-orang dewasa sama-sama menjadi penonton dan bersorak-sorai dan mengomentari setiap langkah dengan riuh.

Ada satu aturan yang jelas: kita boleh main curang selama tidak ketahuan. Kalau ketahuan, kita harus keluar dari permainan. Tapi kalau tidak, kita boleh bertepuk dada setelah permainan selesai. Curang adalah bagian dari permainan ini dan menjadi semacam bukti kecerdasan.
Sebuah keluarga duduk di meja dan bermain kartu.

Jangan-jangan ada yang curang di sini? | Foto (Detail) © mauritius images / Cavan Images / Dreet Production

Sebuah keluarga duduk di meja dan bermain kartu.

Jangan-jangan ada yang curang di sini? | Foto (Detail) © mauritius images / Cavan Images / Dreet Production

Maraton permainan adalah urusan yang serius

Tahun 2016 saya pertama kali mengalami Natal di Jerman. Tempat tinggal kami berbau kukis yang baru keluar dari oven. Bel pintu berdering dan ibu angkat saya masuk sambil membawa tas sepeda di tangan yang satu dan kantong belanja besar di tangan satu lagi. “Anak-anak, Ibu bawa permainan baru untuk kita!” ia berseru sambil tersenyum lebar, lalu meletakkan kantong belanjanya. Padahal di ruang tamu sudah ada bufet kayu besar berisi ratusan permainan – yang juga merupakan warisan ibu angkat saya. Setelah itu, kami menghabiskan tiga hari berturut-turut dengan bermain dan makan.

Tertib itu wajib

Malam bermain di Jerman berbeda dengan di Suriah. Semuanya berlangsung dengan tenang dan teratur. Meja dikosongkan, cangkir dan piring disiapkan, kukis ditaruh di tengah. Kemudian “permainan tahun ini” diletakkan di meja, kaca mata baca dipasang di hidung. Tujuan pertemuan adalah bermain. Pukul 18, malam bermain pun dimulai. Bel pintu berdering, tuan rumah menghidangkan minuman, lalu semuanya mengobrol sebentar. Kemudian terdengar kalimat magis yang sama seperti di Suriah pada malam itu: “Kita jadi main?”

“Saya bacakan aturannya dulu”

Ibu angkat saya, teman-temannya, kakak saya dan saya duduk di meja. Adik angkat saya yang berusia sepuluh tahun tidak mau ikut bermain – karena takut kalah. Dua orang memegang aturan main  dan secara bergantian membacakannya secara perlahan dan jelas. Semuanya harus tepat. Yang paling penting adalah aturan, aturan, dan lebih banyak aturan lagi. Bermain curang dilarang keras di sini dan pasti akan dihukum berat. Tapi terlepas dari segala kekakuan tetap ada canda tawa.

Bagi saya, melakukan permainan adalah bagian tidak terpisahkan dari kehidupan di Jerman, apalagi selama perjalanan kereta api yang rasanya tidak kunjung sampai tempat tujuan. WizardElfer Raus atau Uno tidak boleh ketinggalan, sama seperti ketika kita berkemah, terutama hujan terus. Permainan sering kali bisa mencairkan suasana ketika orang belum saling mengenal, baik dengan maupun tanpa gelas di tangan. Malam bermain di Jerman itu serba terencana dan terjadwal, dan permainnya menjadi fokus utama. Yang dicari adalah kegembiraan dan kompetisi.

Permainan baru, kebahagiaan (di tempat tinggal) baru

Kalau saya teringat kepada Jerman, saya teringat semua momen ketika kegiatan bermain membuat saya sedikit demi sedikit menjadi bagian dari budaya dan masyarakat Jerman. Bukan bahasa saja yang membuka pintu ke tempat tinggal yang baru, pengalaman bermain bersama pun menciptakan ikatan. Bermain itu mendekatkan orang, membuat mereka tertawa, kadang-kadang menangis atau mengomel, dan menciptakan keakraban yang takkan pernah terwujud lewat kata-kata semata.

Apakah permainan Mensch ärgere Dich nicht atau Bargis, suasana hiruk-pikuk di rumah nenek saya atau suasana serba tenang dan tertib di rumah ibu angkat saya – semuanya menjadi bagian dari diri saya, pengalaman saya, dan budaya saya, yang bertemu di antara malam bermain dan sahra. Setiap permainan menegaskan kembali bahwa keakraban bisa ditemui di mana pun, tanpa tergantung bahasa, aturan, maupun asal usul.

Top