Bersama I Gusti Putu Surya Angga Buana

I Gusti Putu Surya Angga Buana © Goethe-Institut Indonesia

  1. Apa tantangan teknis dan metodologis utama dalam proses pendigitalisasian warisan budaya, baik yang berwujud maupun tak berwujud, khususnya dalam memastikan akurasi, konteks, dan pelestarian jangka panjang?
    Tantangan utama dalam proses pendigitalisasian warisan budaya benda adalah menjaga setiap detail objek terdokumentasi dengan baik, mendetail, dan menyeluruh. Sedangkan untuk warisan budaya takbenda adalah bagaimana agar dokumentasi tidak menghilangkan makna dan nilai rasa dari warisan budaya tersebut. Diperlukan alat yang memadai dan pemahaman akan filosofi dari warisan budaya yang akan didokumentasi.

    Contohnya, digitalisasi lontar akan menghadapi risiko kesalahan baca dan ambiguitas makna apabila pengambilan foto dan pencahayaan kurang baik. Oleh karena itu, alat dan media pendukung digitalisasi harus baik dan sumber daya manusia setidaknya juga perlu memahami konteksnya agar dapat meminimalkan kesalahan dalam pengambilan gambar.
  2. Bagaimana representasi digital dari warisan budaya membentuk kembali memori kolektif dan identitas, khususnya bagi generasi muda yang terutama berinteraksi dengan warisan tersebut melalui ranah daring?
    Representasi digital dari warisan budaya memang mudah diakses dan dikonsumsi oleh generasi muda karena mereka sangat akrab dengan dunia daring. Namun, perlu diperhatikan bahwa representasi digital juga dapat mendangkalkan makna apabila hanya dilihat dari aspek visual saja.
  3. Apa tantangan hukum dan struktural utama yang terkait dengan hak cipta dan kepemilikan ketika warisan budaya, baik benda maupun takbenda, didigitalisasi, khususnya dalam menyeimbangkan perlindungan, akses, dan hak-hak masyarakat aslinya?
    Warisan budaya yang dimiliki oleh masyarakat sering kali tidak memiliki hak cipta karena sudah ada sejak lama tanpa adanya pencipta tunggal. Akibatnya, dokumentasi yang telah diunggah berpotensi digunakan dan dikomersialisasikan oleh pihak lain secara sepihak. Diperlukan regulasi yang kuat dari pemerintah untuk menyeimbangkan perlindungan terhadap warisan budaya tersebut. Selain itu, persetujuan dari masyarakat sangat diperlukan sebelum mendokumentasikan suatu warisan budaya.
  4. Peran apa yang seharusnya dijalankan oleh pemerintah dan lembaga budaya dalam mengatur serta mendukung proses digitalisasi, khususnya dalam memastikan standar etis, kedaulatan data, dan akses yang adil?
    Pemerintah dan lembaga budaya perlu membuat regulasi, standar dokumentasi, serta menyediakan sistem penyimpanan digital yang aman. Selain itu, pemerintah dan lembaga budaya juga perlu menyediakan pendanaan dan kebijakan untuk mendukung pendokumentasian warisan budaya oleh masyarakat pemiliknya.
  5. Bagaimana komunitas lokal, terutama generasi muda, dapat terlibat secara bermakna dalam pelestarian digital warisan budaya mereka tanpa kehilangan keaslian maupun kemandirian?
    Generasi muda adalah pewaris dan penerus warisan budayanya. Mereka juga akrab dengan ranah daring dan digital. Hal ini merupakan perpaduan yang baik sebagai upaya pelestarian jangka panjang. Generasi muda sudah selayaknya menjadi pendokumentasi dan kontributor pada platform terbuka dengan tetap melibatkan tetua adat. Mereka hanya memerlukan pembekalan dan pelatihan untuk mendokumentasikan warisan budayanya secara baik dan benar.