Bersama Matthias Harbeck
- Apa tantangan teknis dan metodologis utama dalam proses pendigitalisasian warisan budaya, baik yang berwujud maupun tak berwujud, khususnya dalam memastikan akurasi, konteks, dan pelestarian jangka panjang?
Dalam konteks dokumen tertulis, tantangan terbesar dalam mendigitalisasi warisan budaya tak berwujud terletak pada upaya mencapai pengenalan karakter optik (OCR) yang setepat mungkin, serta menghasilkan metadata berbasis bentuk dan isi untuk mengoptimalkan proses temu kembali informasi. Hal ini membantu membuat kueri pencarian menjadi lebih efisien. Terutama dalam proyek digitalisasi berskala besar, di luar pemberian konteks yang bersifat umum (misalnya melalui penafian), kerangka acuan hanya dapat dibangun berdasarkan entitas yang presisi, seperti lokasi geografis, etnonim, dan individu tertentu. - Bagaimana representasi digital dari warisan budaya membentuk kembali memori kolektif dan identitas, khususnya bagi generasi muda yang terutama berinteraksi dengan warisan tersebut melalui ranah daring?
Materi daring yang dapat diakses secara bebas (meskipun tidak selalu bersifat akses terbuka) lebih mudah ditemukan dan dijangkau, sehingga dapat menghadirkan kembali peristiwa, pengetahuan, dan tempat yang mungkin sebelumnya terlupakan. Materi tersebut juga berpotensi membentuk ulang keluaran chatbot berbasis model bahasa besar dan alat kecerdasan buatan serupa, yang kerap digunakan oleh generasi muda. Namun, terdapat risiko bahwa konten tersebut dapat memengaruhi bias alat-alat tersebut secara negatif, terutama pada materi yang lebih lama. Ketika terlepas dari konteks akademik atau lembaga pelestarian seperti arsip, perpustakaan, dan museum, materi tersebut dapat tampak kehilangan konteks dan menjadi sulit diposisikan secara tepat. - Apa tantangan hukum dan struktural utama yang terkait dengan hak cipta dan kepemilikan ketika warisan budaya, baik benda maupun takbenda, didigitalisasi, khususnya dalam menyeimbangkan perlindungan, akses, dan hak-hak masyarakat aslinya?
Sebagian besar sistem hukum nasional pada umumnya lebih mengakui hak cipta individual. Sementara itu, hak kolektif atau hak bersama atas pengetahuan lokal atau tradisional sulit diselaraskan dengan kerangka tersebut. Selain itu, ketika berupaya membangun pengaturan tanggung jawab jangka panjang, pertanyaan mengenai siapa yang berwenang untuk berbicara atas nama atau mewakili suatu komunitas, yang tidak mudah dijawab, sering kali kembali muncul. Di samping itu, proses menjalin kontak dengan komunitas yang relevan mengenai suatu situs warisan budaya, serta membahas isu-isu kontekstual, hukum, dan etika yang menyertainya, memerlukan waktu yang panjang dan sumber daya yang besar. - Peran apa yang seharusnya dijalankan oleh pemerintah dan lembaga budaya dalam mengatur serta mendukung proses digitalisasi, khususnya dalam memastikan standar etis, kedaulatan data, dan akses yang adil?
Pemerintah dan lembaga kebudayaan perlu mengalokasikan dana untuk memfasilitasi perundingan yang bermakna dengan komunitas asal. Pendanaan juga perlu disediakan untuk mendukung penelitian serta kegiatan penjangkauan di bidang ini. Rekomendasi pendanaan sebaiknya tidak dikaitkan dengan kewajiban publikasi akses terbuka, melainkan memberikan ruang bagi pilihan lain untuk menangani pertimbangan etika, misalnya dalam hal penggambaran atau deskripsi objek, tempat, dan ritual yang bersifat rahasia atau sakral. - Bagaimana komunitas lokal, terutama generasi muda, dapat terlibat secara bermakna dalam pelestarian digital warisan budaya mereka tanpa kehilangan keaslian maupun kemandirian?
Komunitas perlu secara aktif menjalin komunikasi dengan lembaga yang diketahui menyimpan koleksi yang relevan dengan mereka, serta mendorong terjadinya dialog. Penerapan prinsip FAIR (Findable, Accessible, Interoperable, Reusable) menjadi prasyarat penting dalam hal ini. Proyek sains warga perlu didukung dan dipromosikan, serta solusi untuk melindungi data yang sensitif secara etis maupun kultural perlu dikembangkan melalui kerja sama dengan lembaga-lembaga tersebut. Bekerja sama dengan organisasi seperti localcontexts juga dapat menjadi langkah yang bermanfaat.