Realitas Virtual di Museum Ketika Dinosaurus Menjadi Hidup

Proyek Perjalanan Waktu | Museum Städel di Abad ke-19 |
Proyek Perjalanan Waktu | Museum Städel di Abad ke-19 | | Foto: Städel Museum

Realitas virtual masuk ke museum. Berkat teknologi baru, tempat pameran ilmu alam dan sejarah seni membuka dimensi yang tidak terbayangkan sebelumnya.

Dengan beberapa gerakan tangan saja pengunjung museum dibawa ke dunia lain. Mereka tinggal memilih app pada ponsel pintar, memasang telepon genggam pada bagian luar kacamata realitas virtual, memakai kaca mata itu, lalu menajamkan gambar dengan memutar sebuah roda. Lewat tangga batu yang besar mereka masuk - secara virtual - ke dalam bangunan. Mereka melewati ruang depan, menaiki satu tangga lagi, dan menyusuri selasar - kemudian bisa memilih untuk menyusuri museum dengan mengikuti tur ke karya-karya agung atau menjelajahinya seorang diri.

Proyek Perjalanan Waktu | Presentasi Koleksi Städel Tahun1833 Proyek Perjalanan Waktu | Presentasi Koleksi Städel Tahun1833 | Foto: Museum Städel Realitas virtual (RV), yaitu menyelami lingkungan virtual interaktif yang dihasilkan oleh komputer, telah hadir di museum-museum di Jerman. Salah satu contohnya adalah “Perjalanan Waktu”, sebuah app realitas virtual Museum Städel di Frankfurt am Main. App itu dikembangkan oleh tim pimpinan Jochen Sandler, wakil direktur museum tersebut. Untuk menggunakannya diperlukan kacamata realitas virtual yang cocok buatan Samsung. Yang istimewa pada tur virtual yang dimungkinkan oleh app ini: Para pengunjung tidak bergerak melewati rekonstruksi 3-D museum saat ini, melainkan melihat ruang-ruang pameran sebagaimana ditata pada tahun 1878, ketika Museum Städel pertama kali dibuka di tepi sungai Main.

Proyek Perjalanan Waktu | Museum Städel di Abad ke-19 Proyek Perjalanan Waktu | Museum Städel di Abad ke-19 | Foto: Museum Städel Ketika pengunjung merasa menyusuri ruang-ruang kuno, mereka seolah-olah mendengar lantai kayu berderak. Mereka melihat lukisan-lukisan yang pada waktu itu masih tergantung rapat di dinding-dinding. Dan mendapat informasi bahwa beberapa lukisan yang dulu dipamerkan sebagai karya agung sudah bertahun-tahun digudangkan. Dengan demikian app perjalanan waktu itu mengungkapkan bagaimana penilaian karya sendiri berubah seiring berjalannya waktu – dan sekaligus memperlihatkan bahwa cara memamerkan karya seni pada abad ke-19 berbeda dari sekarang.
 


PROYEK PENELITIAN APP STÄDEL

Dasar bagi tur RV pada app perjalanan waktu adalah hasil-hasil sebuah proyek riset yang rumit, yang membuat Jochen Sander mempelajari sejarah koleksi dan pameran museumnya dengan cermat. Selain app itu, risetnya menghasilkan situs web zeitreise.staedelmuseum.de. Laman tersebut juga menampilkan pendahulu museum Städel: Sebelum memprakarsai pembangunan gedung pameran di tepi sungai Main itu, penyandang dana Johann Friedrich Städel memamerkan koleksinya yang luar biasa – yang juga disanjung oleh Johann Wolfgang Goethe yang hidup sezaman dengannya – di rumah-rumah pribadinya. Selain itu terdapat banyak informasi latar belakang dari proyek penelitian. Jika app membuat masa lalu dapat dialami secara bermain-main, situs web menyajikan keterangan lebih mendalam.

Proyek Perjalanan Waktu | Presentasi Koleksi Städel Tahun1833 Proyek Perjalanan Waktu | Presentasi Koleksi Städel Tahun1833 | Foto: Museum Städel Museum Städel di Frankfurt bukan satu-satunya gedung pameran di wilayah berbahasa Jerman yang bereksperimen dengan teknologi realitas virtual. Museum Alam Senckenberg di seberang kota sejak pertengahan November meminjamkan kacamata RV, yang dapat digunakan untuk menempuh perjalanan ke masa lalu di ruang dinosaurus. Dengan memakai kacamata seperti itu, ruang tersebut berubah menjadi lanskap dengan pakis dan tumbuhan lain dan tulang-tulang seekor dinosaurus diplodocus tiba-tiba mulai bergerak sendiri.

Realitas Virtual di Museum Ilmu Alam Berlin Realitas Virtual di Museum Ilmu Alam Berlin | Foto: Stefan Höderath/Google Arts & Culture Museum untuk ilmu alam di Berlin pun menghidupkan kembali seekor dinosaurus melalui teknologi RV. Tulang-tulang seekor giraffatitan setinggi lebih dari 13 meter merupakan atraksi utama di bangsal dinosaurus di museum ini. Melalui animasi 3-D, dino zaman purba itu menggerakkan lehernya yang panjang, menatap pengunjung, dan mengeluarkan suara menggeram. Giraffatitan virtual ini bisa dilihat dengan app dari Google atau sebagai video 360 derajat di portal daring Youtube.
 

KEMAJUAN TEKNOLOGI

Sudah banyak museum yang sementara ini telah menerapkan teknologi baru itu. Proyek-proyek RV telah direalisasikan di Museum Sejarah Alam di Wina, di Museum Sejarah Alam Negara di Braunschweig, di Oseanium di Stralsund atau pun di Museum Kota Berlin. Museum Nasional Bavaria di München bereksperimen dengan teknik realitas tertambah (augmented reality), yang menggabungkan realitas virtual dan nyata. Dengan menggunakan iPad, pengunjung dapat mengamati berbagai karya seni dalam koleksi, dan pada layar akan tampil informasi tambahan untuk karya yang dipamerkan. Misalnya saja, app itu menampilkan patung karya Tilman Riemenschneider dalam konteks altar keseluruhan seperti keadaannya semula .

Realitas Virtual di Museum Ilmu Alam Berlin Realitas Virtual di Museum Ilmu Alam Berlin | Foto: Stefan Höderath/Google Arts & Culture Satu pertanyaan selalu saja muncul jika museum memberanikan diri memasuki dunia virtual: Apakah langkah tersebut tidak merugikan museum itu sendiri? Bukankah museum akan kehilangan pengunjung jika koleksinya disediakan di ruang virtual? Alex Braun, juru bicara Museum Städel tidak memiliki kekhawatiran seperti itu. Justru sebaliknya, ia yakin proyek seperti app perjalanan waktu bisa membantu membangkitkan minat baru untuk museum. “Yang penting, realitas virtual harus memberi manfaat tambahan, bukan sekadar meniru kunjungan museum itu sendiri.”