Penerbit Independen Keberagaman di Pasar Buku

Menemukan penulis berbakat, memublikasikan seri terbatas bercita rasa tinggi atau buku puisi: Itulah sumbangsih penerbit independen Jerman bagi keberagaman di pasar buku. Namun sama seperti penerbit besar, penerbit independen pun harus berjuang menghadapi digitalisasi, demikian pendapat Stefan Weidle, pimpinan yayasan Kurt-Wolff-Stiftung.

Menemukan penulis berbakat, memublikasikan seri terbatas bercita rasa tinggi atau buku puisi: Itulah sumbangsih penerbit independen Jerman bagi keberagaman di pasar buku. Namun sama seperti penerbit besar, penerbit independen pun harus berjuang menghadapi digitalisasi, demikian pendapat Stefan Weidle, pimpinan yayasan Kurt-Wolff-Stiftung.

Di mata masyarakat pembaca, penerbit independen di Jerman pada umumnya dapat dikatakan antara ada dan tiada. Dibandingkan penerbit besar seperti Penguin Random House, penerbit independen ibarat sekoci penyelamat bagi bakat terpendam, tema terbengkalai, tulisan daur ulang, dan aneka topik nyeleneh yang terombang-ambing di lautan judul bestseller. Namun pada kesempatan seperti Pekan Raya Buku Frankfurt, peran penting para penerbit independen bagi budaya buku Jerman selalu saja kembali terpampang dengan jelas.

Di seluruh Jerman terdapat kurang lebih seribu penerbit independen. Angka itu adalah estimasi Stefan Weidle, pimpinan yayasan Kurt-Wolf-Stiftung yang bertujuan membina keberagaman di dunia penerbitan dan sastra. Akan tetapi di antara keseribu penerbit itu ada banyak yang hanya sesekali menerbitkan buku, atau bahkan hanya pernah menerbitkan satu judul saja. Sekitar 120 penerbit independen telah mengembangkan struktur organisasi yang serius dan secara teratur menerbitkan berbagai jenis buku, mulai dari buku fiksi sampai buku teks.

Tiras kecil, bakat besar

Menurut Weidle, kekuatan penerbit independen adalah tiras kecil yang dapat dipublikasikan secara menguntungkan. "Penerbit besar mengincar judul yang dapat menghasilkan 15.000 Euro per bulan, dan hanya sedikit buku yang memenuhi persyaratan tersebut." Penerbit independen sebaliknya mampu mengeluarkan buku dengan tiras awal 500 eksemplar saja. Karena itulah buku puisi atau buku penulis yang kurang terkenal pun masih dapat diterbitkan. Weidle sendiri sempat beruntung ketika menerbitkan novel Manon Lescaut of Turday karya Vsevolod Petrov. Naskah pengarang Rusia yang sudah nyaris terlupakan itu mula-mula diterbitkan dengan tiras seribu eksemplar, tetapi sampai sekarang telah terjual sekitar sepuluh kali lipat. Ini contoh tipikal bagaimana penerbit independen memperkaya pasar buku: "Ada orang yang melihat potensi para pengarang yang kurang terkenal atau kurang sukses dan memberi kesempatan kepada mereka," ujar Weidle.

Kesulitan terbesar yang dialami penerbit independen dalam hal pemasaran adalah bagaimana buku terbitan mereka bisa masuk ke toko buku. Jaringan toko buku besar jarang bersedia menampung terbitan mereka. Padahal justru keberagaman produk penerbit-penerbit kecil yang tidak bisa ditemui di toko buku utama, kata Weidle. "Pihak toko buku pada umumnya mementingkan fiksi populer dari negara-negara berbahasa Inggris, khususnya judul-judul bestseller."

Namun itu hanya sebagian kecil realitas sastra. Weidle yakin para pembeli pun akan menghargai pilihan yang lebih luas. Meskipun dewasa ini nyaris tidak ada penerbit independen baru, jumlah keseluruhannya di Jerman sudah lama bertahan pada angka yang cukup baik.

Penerbit independen merapatkan barisan

Perkembangan ini terjadi bukan hanya karena kualitas konten. Kualitas penjilidan buku yang dicetak dengan oplah besar semakin menurun, begitu pula kualitas penyuntingannya. "Ini sudah sampai taraf mengganggu," kata Weidle. Di sinilah keunggulan seri terbatas yang dikerjakan secara cermat oleh penerbit independen. Kini sedang dikembangkan situs web baru dengan domain Indiebook.de untuk mendukung pemasaran buku-buku tersebut di masa mendatang,  Sekitar 60 penerbit dari Jerman, Austria dan Swiss akan menyajikan produk-produk mereka di sini. Menurut Weidle, langkah ini diperlukan karena "60 sampai 70% dari seluruh pembelian di toko buku merupakan pembelian spontan". Buku yang tidak ada di meja diskon di toko buku akan lebih sulit terjual. Namun langkah itu pun takkan bisa membalikkan keadaan: Buku sudah lama tergeser oleh internet sebagai media utama, paling tidak sejak lahirnya Generasi Digital, demikian penjelasan Weidle. "Kalau dulu saya ingin mengetahui sesuatu, saya akan mencari buku. Zaman itu sudah berlalu."

Dari media utama ke benda koleksi

Kegiatan seperti Indiebookday dirancang untuk mengarahkan perhatian kembali ke keberagaman budaya penerbitan Jerman. Prakarsa ini menyerukan agar pembaca membeli satu buku penerbit independen, kemudian membahasnya di media sosial dengan tagar #Indiebookday.  Indiebookday mengacu kepada Record Store Day, yang sudah bertahun-tahun melakukan hal serupa bagi label-label independen di dunia musik. Dengan demikian, buku beralih dari media utama menjadi benda koleksi, paling tidak di sektor penerbit independen. Stefan Weidle tidak keberatan. "Penerbit besar mementingkan perputaran yang cepat dan hampir sepenuhnya terfokus ke AS." Dengan keadaan seperti itu, banyak pengarang asal Eropa akan terbengkalai. Weidle yakin tanpa penerbit independen pasar buku Jerman akan jauh lebih miskin.