Wawancara dengan Penulis Indonesia Feby Indirani “Budaya Baca di Indonesia Sedang Tumbuh”

Feby Indirani mantan jurnalis televisi yang sukses. Kini ia bekerja sebagai penulis – di sebuah negeri yang nyaris tanpa pembaca buku. Monika Griebeler berbincang-bincang dengannya mengenai tantangan bagi penulis di Indonesia dan pengaruh sastra terhadap masyarakat di negerinya.

Feby Indirani Feby Indirani © Private

Dua tahun lalu, di tahun 2013 Anda menukar pekerjaan Anda sebagai jurnalis di stasiun televisi ternama dengan kehidupan penulis yang serba tidak pasti. Seberapa sering Anda dikatakan sinting oleh teman-teman dan sanak saudara?


Feby Indirani: Beberapa teman saya memang menyangsikan keputusan saya dan pasti juga mengatakan saya gila. Meskipun tahu bahwa saya sudah menerbitkan beberapa buku, mereka tetap saya terbengong-bengong ketika saya melepas pekerjaan saya yang bergengsi itu. Kamu redaktur dengan acara televisi sendiri – kenapa kamu mengorbankan itu semua? Kamu yakin?

Tapi di saat yang sama ada juga teman dan kolega yang merasa iri, karena mereka pun sempat berkeinginan mengerjakan hal lain, tetapi pada gilirannya tidak memiliki keberanian..

Indonesia tidak dikenal sebagai negeri tempat orang gemar membaca buku. Kenapa Anda tetap mengambil risiko menjadi penulis?

Indirani: Memang benar, walaupun banyak orang bisa membaca – angka melek huruf mencapai 93 persen – hanya sedikit yang melakukannya. Tapi dalam pengalaman saya kini semakin banyak orang Indonesia membaca buku. Dan semakin banyak anak muda yang ingin menerbitkan buku mereka sendiri.

Sejak kecil saya sudah senang menulis. Waktu saya berusia 17 tahun, saya meraih tempat kedua di sebuah lomba mengarang. Tulisan saya dimuat di majalah “Gadis”. Kemudian saya menerima surat dari sejumlah pembaca perempuan di Aceh, yang jauh dari tempat tinggal saya Jakarta. Mereka mengaku tersentuh oleh tulisan saya dan mengatakan mereka pun mengenal masalah-masalah yang saya hadapi.

Saya kaget dan terharu karena berhasil menjangkau orang-orang yang tidak saya kenal, yang tinggal di suatu tempat yang belum pernah saya kunjungi. Ketika itulah saya menyadari besarnya kekuatan yang mungkin ada pada sebuah tulisan.

Apa kesulitan terbesar dalam kehidupan seorang penulis di Indonesia?

Indirani: Antara lain, belum ada agen penulis dalam arti sebenarnya, yang membantu penulis perorangan saya menangani urusan hukum atau masalah lain yang terkait dengan penerbitan buku. Sebagai penulis saya harus bernegosiasi sendiri dengan pihak penerbit, harus menjual tulisan saya, membaca kontrak dengan teliti, lalu mempromosikan buku saya. Ini tentu saja akan lebih mudah kalau kita sudah dikenal atau kalau kita mempunyai hubungan baik dengan orang-orang penting di sebuah penerbit.


Sama seperti Anda, banyak penulis di Indonesia, baik yang baru muncul maupun yang sudah mapan, ternyata perempuan. Apa sebabnya?

Indirani: Indonesia modern memiliki tradisi panjang seputar perempuan cerdas yang mengemas pemikiran mereka dalam bentuk karya sastra maupun buku nonfiksi. Pada tahun1980-an, industri buku menyaksikan sejumlah perempuan menjadi penulis laris, misalnya saja NH Dini, Mira W, dan lain-lain.

Pada tahun 1990-an awal tahun 2000-an muncul generasi baru penulis perempuan. Penulis seperti Ayu Utami, Helvy Tiana Rosa, Oka Rusmini, Dewi "Dee" Lestari atau Djenar Maesa Ayu menjadi idola di pasar buku. Mereka menjadi teladan bagi generasi yang lebih mudah, mereka disayangi oleh media, dan pihak penerbit bisa yakin akan meraup untung dengan menjual buku hasil karya mereka.

Omong-omong soal uang: Anda tinggal di Jakarta, kota paling mahal di Indonesia. Seperti apa situasi finansial Anda?

Indirani: Sebenarnya penghasilan saya cukup baik, karena saya juga menulis memoar dan biografi untuk orang lain. Bukan sebagai ghostwriter, melainkan dengan nama saya sendiri. Sebagian besar klien saya tidak terkenal, tetapi mereka pun ingin menceritakan kisah hidup mereka. Saya menganggapnya sebagai suatu tantangan kreatif. Kalau di antara klien saya ada yang tidak mempunyai kisah hidup dramatis yang bisa saya ungkapkan, saya akan menambahkan konteks sosiopolitik. Kalau saya diberi emas oleh klien saya, bagus, saya akan membuat perhiasan. Kalau saya diberi kertas saja, juga tidak apa-apa, berarti saya akan membuat seni origami.

Kecuali itu, saya masih menulis teks kehumasan dan teks untuk iklan di surat kabar. Sebagai mantan moderator televisi saya juga sering diminta memandu diskusi atau peluncuran buku. Secara berkala saya pun mengadakan lokakarya singkat seputar penulisan. Dengan cara itu saya bisa mencapai keseimbangan antara apa yang saya sukai dan penghasilan yang memadai.

Apa tema favorit Anda sebagai penulis?

Indirani: Saya menulis cerita pendek dan novel, terutama mengenai tema-tema perempuan dan masalah sosial dari sudut pandang perempuan. Selain itu saya membuat esai mengenai perempuan dalam Islam, mengenai tema seperti aturan berpakaian, poligami, perempuan di posisi pemimpin.

Apa yang dibutuhkan sebuah buku agar digemari oleh pembaca Indonesia?

Indirani: Saat ini tidak ada faktor tertentu yang bisa menjamin keberhasilan sebuah buku. Penulis muda yang belum dikenal bisa saja meraih sukses, hanya karena ia mempunyai akun Twitter yang digunakan untuk membahas masalah percintaan sehari-hari.

Ada juga penerbit yang sekadar menerapkan rumus buku laris: Yang penting ada nama terkenal di sampul depan. Buku seperti itu ditulis dengan bantuan ghostwriter atau ko-penulis, kemudian dipasarkan dengan kampanye iklan yang menggebu-gebu. Di pihak lain, ada pula buku yang selain meraih sukses juga memiliki bobot intelektual, misalnya saja karya Ayu Utami, Seno Gumira Ajidarma, atau Eka Kurniawan.

Pada bulan Oktober, Indonesia menjadi tamu kehormatan Pekan Raya Buku Frankfurt. Anda anggota tim pers Komite Nasional. Bagaimana karya sastra Indonesia dapat menyapa pembaca di luar negeri, sementara di negeri sendiri saja begitu banyak masalah?

Indirani: Banyak yang dapat ditawarkan oleh sastra Indonesia. Sastra Indonesia modern sejak awal abad ke-20 memiliki tradisi berciri intelektual yang banyak menggarap alam pemikiran. Masalahnya adalah bahwa sastra Indonesia belum dikenal oleh dunia. Kami berharap bahwa Pekan Raya Buku memberi kami kesempatan untuk menarik perhatian komunitas budaya internasional.