Novel Andrea Hirata "The Rainbow Troops" (Laskar Pelangi) Novel “Die Regenbogentruppe” (Laskar Pelangi) Andrea Hirata – Fiksi dan Kenyataan versi Melayu

Di Indonesia mungkin jarang ada yang tahu bahwa karya Andrea Hirata ini, yang merupakan novel Indonesia pertama yang meraih sukses besar di luar negeri, merupakan versi yang jelas berbeda dari versi bahasa Indonesia. Oleh Bettina David

Andrea Hirata Andrea Hirata © Meda Kawu

dunia, namun sastranya nyaris tidak dikenal di [Jerman]. Karena itu sangat menggembirakan bahwa terjemahan “Laskar Pelangi” karya Andrea Hirata kini berhasil menjangkau sidang pembaca yang lebih luas, melampaui lingkungan terbatas orang-orang yang berminat kepada Indonesia.

Kisah yang secara garis besar mengacu kepada masa kecil Hirata ini bercerita tentang Ikal dan teman-temannya, sesama siswa sekolah Muhammadiyah yang senantiasa terancam ambruk dan ditutup di pulau Belitung. Penuturan Hirata seputar pengalaman mereka memberikan gambaran yang simpatik mengenai kehidupan multikultural di Indonesia.

Para siswa SD itu berasal dari kalangan yang sangat miskin. Orang tua mereka bekerja sebagai buruh di perusahaan tambang setempat, sebagai kuli atau nelayan. Kenyataan bahwa mereka bisa duduk di bangku sekolah pun nyaris merupakan keajaiban tersendiri, mengingat mereka tidak mampu membayar uang sekolah yang lazim.

From Zero to Hero

Meskipun dihadang berbagai kesulitan, dua guru yang penuh dedikasi dan tanpa pamrih - Pak Arfan yang sudah tua dan Bu Muslimah yang masih muda dan idealis - terus menjaga keberlangsungan kegiatan belajar mengajar. Dengan cara yang patut diteladani, mereka pun selalu memupuk rasa ingin tahu anak-anak didik mereka yang nyaris tak terpuaskan.

Kisah ini, yang konon dipersembahkan sebagai ungkapan kasih sayang Hirata kepada kedua guru itu, menunjukkan betapa mengesankan peluang untuk maju yang dapat diperoleh dengan bersekolah:  Andrea Hirata berhasil menempuh jalan dari sekolah reyot di Belitung ke universitas di Eropa dan menjadi pengarang terkemuka di Indonesia. “Laskar Pelangi” yang terbit tahun 2005 menjadi buku terlaris di Indonesia dengan lebih dari 5 juta eksemplar terjual. Dilihat dari segi pemasaran internasional yang berhasil, buku ini juga patut disebut sebagai novel Indonesia yang paling banyak terjual di luar negeri.

Gaung fenomenal “Laskar Pelangi” di sebuah negeri tempat kegiatan membaca buku sulit digolongkan sebagai kegiatan waktu luang favorit, seakan-akan mengisyaratkan bahwa Hirata orang pertama yang berhasil menemukan ekspresi sastrawi untuk mengungkapkan kerinduan dan harapan yang tersimpan dalam hati orang banyak.

Mengilhami dan Memberi Motivasi

Semua komentar bernada kagum tanpa mengenal lelah mengulangi bahwa novel Hirata “mengilhami” dan “memberi motivasi”: Di luar beberapa pengecualian tragis, seluruh dunia akan terbuka lebar bagi mereka yang berani bermimpi dan berjuang untuk mewujudkan impian itu.

Cerita dengan pola “From Zero to Hero” yang telah memicu gelombang antusiasme ini menunjukkan betapa besar kebutuhan akan contoh keberhasilan dan kisah hidup yang menginspirasi.

Salah satu faktor penting di balik sukses “Laskar Pelangi” adalah pengemasannya sebagai kisah otobiografi, meskipun jika diperhatikan lebih cermat ada banyak hal yang terasa janggal. Fiksi serta realitas pun bercampur baur, bukan hanya di dalam novel tersebut, tetapi juga dalam ucapan sang pengarang, yang kadang-kadang menimbulkan kebingungan.
Pada acara pembacaan karyanya, misalnya, Hirata bercerita dengan penuh haru mengenai perjumpaannya dengan Lintang, bekas teman sekolahnya, si anak ajaib yang jago ilmu pengetahuan alam dan digadang-gadang sebagai jenius, tetapi bernasib tragis – justru ia yang terpaksa putus sekolah – sehingga mengaduk-aduk emosi jutaan pembaca.

Hiruk-pikuk media seputar buku Laskar Pelangi berhasil membawa para mantan siswa itu ke sejumlah acara bincang-bincang di televisi, namun selain Hirata ternyata tidak ada yang mengingat Lintang, termasuk Bu Guru Muslimah.

Pengagungan Standar Barat?

Oleh sebagian besar kritikus sastra Indonesia novel tersebut tidak terlalu diperhatikan – di [Jerman] pun buku laris yang membidik selera massa belum tentu tergolong karya sastra bermutu.
Dalam buku berjudul “Laskar Pemimpi” yang ditulis pada tahun 2008, Nurhady Sirimorok, pakar sosiologi yang juga berkiprah di daerah terpencil di Sulawesi yang memiliki masalah serupa seperti di kampung halaman Hirata, menuding bahwa novel Hirata bertolak dari sikap orientalistik. 

Ia mengecam pengagungan “kemajuan” tanpa dipertanyakan serta pengambilalihan secara serta-merta standar Barat seperti rasionalitas dan modernitas yang dianggap universal. Ia pun menggugat penggambaran bahwa tolok ukur hidup sukses itu terbatas pada peningkatan derajat sosial, pendidikan universitas di Eropa, dan keberhasilan di tempat kerja.

Dalam penggambaran para guru yang serba ideal dan identifikasi menggebu-gebu dengan pengetahuan Barat memang terasa ada kerinduan akan semesta moral yang utuh, yang menjanjikan pengalihan yang mulus dari dunia tradisional ke dunia modern-barat yang dicirikan oleh ideologi-sukses liberal. Peran Islam di sini dibatasi sebagai semacam kompas etika yang memberi arahan secara garis besar saja. Hambatan dalam perjalanan menuju masa depan yang lebih baik seakan-akan hanyalah kepercayaan tradisional kepada takhayul serta kemiskinan masyarakat lokal yang tereksploitasi.

Dari segi bahasa, versi Jerman garapan Peter Sternagel sangat bagus dan mungkin termasuk satu dari sedikit karya terjemahan yang secara bahasa lebih cermat dan secara gaya lebih seimbang dibandingkan karya aslinya. Meskipun begitu tetap ada yang mengganjal, karena di beberapa bagian hanya ada sedikit kemiripan antara karya asli dan terjemahan internasionalnya.

Konotasi Kritik Sosial

Versi Inggris pertama diterbitkan tahun 2010 oleh penerbit Indonesia. Ketika itu Andrea Hirata bekerja sama dengan penerjemah Angie Kilbane dan, seperti disinggung di situs webnya, merumuskan kembali beberapa bagian karena pertimbangan budaya. Yang tidak disebutkan adalah bahwa ia antara lain menambahkan sebuah plot sentral, yaitu perjuangan yang nyaris dapat dikatakan heroik melawan perusahaan tambang, serta sejumlah protagonis baru.

Dengan demikian kisah tersebut menjadi lebih kritis terhadap masalah sosial, namun belum tentu lebih realistis. Entah apa yang mendorong sang pengarang dan penerjemahnya untuk mengurangi usia ibu guru, yang di buku asli disebut berumur awal dua puluhan, menjadi 15 tahun saja di versi internasional? Banyak bagian terjemahan Jerman pun lebih mengacu ke versi bahasa Inggris daripada ke buku aslinya.

Adaptasi untuk pasar internasional ini juga menghilangkan banyak hal yang mencirikan versi Indonesia. Ditopang oleh delusi kemegahan yang terhalang hanya oleh kemiskinan, para siswa digambarkan sebagai anak-anak jenius yang autodidak.

“Jual nama” yang terasa berlebihan

Contoh “jual nama” tokoh Barat terkenal begitu sering ditemui di dalam buku ini sehingga terasa berlebihan. Hal-hal yang berasal dari lingkungan sekolah setempat nyaris tidak pernah disinggung tanpa langsung disetarakan dengan penemu berotak cemerlang dari Barat atau tanpa segera dijelaskan dengan istilah-istilah ilmu pengetahuan alam. Sepertinya, lingkungan Melayu-Islam baru bermakna jika ditempatkan di dalam kerangka referensi Barat.

Tetapi mungkin justru ini salah satu faktor yang berkontribusi terhadap sukses yang diraih. Para pembaca dari kalangan menengah perkotaan mendapat kesempatan untuk mengidentifikasi diri dengan pandangan berkesan kebaratan Hirata terhadap kondisi kemiskinan dan turut berpartisipasi dalam fantasi keberhasilan: Andai kata tidak ada kemiskinan dan eksploitasi, kita takkan kalah cerdas, modern, dan sukses dari orang Barat yang dikagumi.

Pandangan orientalistik Hirata, dan ini sisi baik dari bukunya, telah menimbulkan gelombang motivasi yang dahsyat di Indonesia dan menginspirasi tidak terhitung banyaknya orang untuk memperjuangkan hak atas pendidikan, termasuk bagi anak-anak miskin di daerah terpencil.
Istilah-istilah Barat yang oleh Hirata – dan juga oleh banyak pengarang kontemporer Indonesia lainnya – dikutip sebagai klise untuk menunjukkan bahwa ia pun merupakan bagian dari dunia global-barat, sebagian besar dihilangkan di dalam versi-versi internasional. Jadi, di sini ada sesuatu yang dihilangkan bukan terkait kata-kata atau bayangan yang terlampau asing, melainkan karena sang penutur melontarkan penggalan-penggalan dalam bahasa [Barat] untuk menanggapi tuntutan sastra dan budaya yang sama sekali berbeda.

Melalui terjemahan “Laskar Pelangi” para pembaca Barat memperoleh sebuah cerita dari Indonesia, tetapi suara Indonesia sang pengarang tidak lagi terdengar di sini.

Di Indonesia pun jarang ada yang tahu bahwa buku yang merupakan novel Indonesia pertama yang begitu sukses di luar negeri ternyata merupakan versi yang sangat berbeda dari versi yang dibaca dalam bahasa Indonesia – bahwa buku itu harus dirombak dulu agar ”memadai” untuk tuntutan para pembaca Barat. Tetapi dengan demikian, salah paham timbal balik yang ada pun tetap tidak disinggung.