5 Pulau / 5 Desa
5 Pulau / 5 Desa

 © Yannick Kaftan

5 Pulau

10 Pembuat Film
10 Realitas di luar ruang-ruang metropolis dan urban Indonesia dan Jerman


Kepulauan yang tergabung dalam negara Indonesia terentang sepanjang lebih kurang 5000 kilometer dari timur ke barat. Lebih dari 16 ribu pulau berada dalam rangkaian ini. Atas undangan Goethe-Institut di Indonesia lima orang mahasiswa dari Universitas Seni Hamburg (Hochschule für Bildende Künste Hamburg, disingkat HFBK) pada Maret 2016 menghabiskan kira-kira tiga minggu waktu mereka secara intensif untuk melihat dari dekat beragamnya kehidupan di lima pulau di Indonesia. Selama mereka di sana mereka ditemani oleh lima orang akademisi-akademisi muda di bidang kebudayaan yang berasal dari Universitas Indonesia. Di kelima tempat ini kemudian tersusunlah film-film pendek yang merupakan hasil pengamatan pribadi dan pertemuan-pertemuan yang istimewa. Tidak ada dua karya yang isinya sama, sebagaimana tak ada cara pandang yang sama mengenai satu tempat dan setiap pulau memiliki ciri dan denyut hidup masing-masing. Para mahasiswa Jerman itu memanfaatkan kesempatan yang diberikan kepada mereka untuk mendekati, meluangkan waktu dan memercayai segenap panca indra mereka untuk berinteraksi dengan manusia, gambaran, dan situasi yang mereka hadapi. Sebuah panorama yang menghadirkan keselarasan sekaligus keragaman pun terpampang.

Bagian 5 Pulau dalam proyek 5 Pulau / 5 Desa ini terwujud berkat kerja sama antara Universitas Indonesia dengan Goethe-Institut di Indonesia dan HFBK Hamburg. Pekerjaan ini dikonsepkan sebagai sebuah pendekatan film dokumenter terhadap topik seputar periferi, jarak, waktu dan pewaktuan.
 

Wangi-Wangi, Wakatobi. Dua perahu. Nelayan dari perkampungan suku Bajo Mola menjalani keseharian mereka. Hari itu mereka berada di tengah laut. Matahari memanggang. Mesin di perahu rusak dan harus diperbaiki. Siapa yang dapat membantu? Di atas perahu yang lain, dua ibu sedang dalam perjalanan untuk mengantar ikan hasil tangkapan mereka.

Bincang-bincang bersama Yanick Kaftan
Bobanehena, Halmahera, utara Maluku. Seorang ibu menjemur cuciannya di antara tambang dan bambu yang konstruksinya ia rancang sendiri dengan sederhana. Kegiatan rutin warga menentukan atmosfer di desa Bobanehena, juga kepercayaan mereka yang kuat dan masalah-masalah di sekitar daerah itu.
Ba’a, Rote, di Provinsi Nusa Tenggara Timur. Tengah malam sampai matahari menjelang. Motor-motor berseliweran, orang-orang bertemu dalam kelompok-kelompok kecil di sepanjang jalan sempit yang gelap, ditingkahi derum genset. Kegiatan-kegiatan berlangsung dengan mengandalkan sinar senter, sementara itu tatapan penuh harap ditujukan ke kerlip-kerlip cahaya di kejauhan. Selama beberapa malam pola kesibukan yang sama direkam, perempuan dan laki-laki yang sedang menunggu kembalinya perahu-perahu nelayan setelah berhari-hari melaut.
Di ujung Indonesia bagian Kepulauan Maluku kami mengikuti beberapa penyembuh serta orang-orang ynag mencari kesembuhan dan keselamatan. Seorang dukun, seorang bidan, seorang pendeta, seorang veteran berjiwa bisnis dan mimpi-mimpi buruk mereka. “Adat”, aturan tradisional yang mengatur manusia, makhluk dan benda, kekuatan yang suci dan yang jahat, hal-hal modern seperti ekonomi dari Barat dan alat-alat medis, semuanya senantiasa bersisian dan berdialog.
Reda Mata menampilkan prosesi pemakaman dalam tradisi Marapu, salah satu dari budaya megalitik yang masih tersisa di dunia saat ini. Para pemuka adat berkumpul dan bermusyawarah mengenai berbagai hal seputar almarhum. Anak-anak bermain gong. Sanak saudara mendatangi rumah keluarga yang tengah berduka membawa kerbau sebagai seserahan. Jenazah dimasukkan ke dalam kuburan batu seraya diiringi doa-doa yang memohonkan pengampunan, sebuah tahap yang menjadi gerbang bagi sang jiwa menuju tempatnya yang baru di alam arwah.

5 Desa

Pellworm © Anna Walkstein

Bagian kedua yaitu 5 Desa akan dilaksanakan oleh Goethe-Institut di Indonesia dan HFBK Hamburg bersama In-Docs, organisasi nirlaba di bidang film dokumenter yang berbasis di Jakarta. Dalam rangka kegiatan ini akan diundang lima orang pembuat film Indonesia untuk tinggal dan bekerja selama jangka waktu terbatas di lima desa di Jerman.
Dalam proses pengembangan film mereka seluruh pembuat film dalam proyek 5 Pulau / 5 Desa ditemani oleh Pepe Danquart, seorang sutradara dan profesor film dokumenter yang sampai saat ini aktif di HFBK Hamburg dan Bernd Schoch, seorang sutradara film yang pernah pula bekerja di HFBK Hamburg.