Fatma Aydemir Sastra dan Representasi

Fatma Aydemir
Fatma Aydemir - Makassar International Writer Festival 2018 | © Goethe-Institut Indonesien

Makassar International Writers Festival setiap tahun mempertemukan penulis dari seluruh dunia dengan para warga Sulawesi Selatan. Tahun ini temanya adalah suara dan kebisingan.

Von Fatma Aydemir


Hal pertama yang menarik perhatian saya ketika tiba di Indonesia adalah bau rokok kretek. Hal kedua adalah kaum perempuan muda yang penuh rasa ingin tahu. Pertanyaan mereka yang cerdas, hasrat mereka akan dialog. Berulang kali saya terlibat dalam percakapan yang berawal dari tegur sapa yang ramah dan segera berkembang menjadi diskusi mengenai masalah eksistensial: Bagaimana menulis membantu kita berpikir? Apa dasar yang sehat untuk identitas regional? Bagaimana negara dan agama dapat diselaraskan?

Ruang untuk percakapan seperti itu disediakan oleh Makassar International Writers Festival, yang pada tahun ini saya hadiri sebagai penulis tamu dari Berlin. Sejak 2011 penulis-penulis dari Indonesia dan dari mancanegara bertemu dengan warga setempat di kota pelabuhan di Sulawesi Selatan ini. Diskusi di atas maupun di luar podium berlangsung di lingkungan hijau bekas benteng Belanda Fort Rotterdam. Suasananya informal, tema yang dibicarakan meliputi hak asasi manusia sampai feminisme dan storytelling. “Voice/Noise” itulah moto yang menaungi festival pada tahun ini. Ini soal berbicara dan mendengarkan di tengah hiruk pikuk zaman sekarang. Soal suara dan kepentingan yang berdampingan sekalipun berbeda-beda.
 

Soal kekhawatiran akan kaum garis keras

Betapa aktualnya moto itu dapat diketahui dari kata sambutan direktur festival Lily Yulianti Farid. Ia menyinggung dua peristiwa politik yang seakan-akan mengapit program festival. Peringatan 20 tahun lengsernya Presiden H. M. Soeharto, yang terpaksa meletakkan jabatan akibat desakan rakyat setelah memerintah Indonesia dengan tangan besi selama 32 tahun, sudah di ambang pintu. Selain itu, tahun depan akan berlangsung pemilihan presiden di masa yang penuh ketegangan. Banyak pihak khawatir bahwa pengaruh kubu Islam garis keras akan semakin besar. Di Indonesia pun Islam politik kini tengah naik daun. Kaum fundamentalis berkhotbah tentang negara agama, tempat hanya warga Muslim yang berhak memegang jabatan politik. Seandainya Islam yang selama ini toleran di Indonesia berubah menjadi radikal, dampak negatifnya akan dirasakan terutama oleh kaum perempuan dan kalangan minoritas.

Penulis seperti Feby Indirani atau Hikmat Darmawan dengan sadar berupaya menghalau perkembangan seperti itu. Indirani dan Darmawan, yang menjadi pembicara pada sebuah diskusi podium bersama saya, belum lama ini meluncurkan sebuah gerakan yang mengusung semboyan: “Relax, it's just Religion”. “Agama adalah bagian dari identitas kita, dan akan selalu begitu. Tapi kita harus belajar untuk menghadapinya dengan lebih santai. Jangan dianggap sebagai paksaan,” Indirani menjelaskan. Humor pun bagian penting dari keseharian. “Tujuannya bukan mengolok-olok agama. Tapi kita harus punya kebebasan untuk bercanda, tanpa ada lelucon yang berakhir dengan pertumpahan darah.”

Penulis yang mendatangi festival dari Jakarta itu sekaligus memperkenalkan buku barunya “Not Virgin Mary”, sebuah kumpulan cerita pendek dari tahun lalu, yang kini juga tersedia dalam bahasa Inggris. Ia bertutur tentang harapan ke-72 perawan di surga, tentang seekor babi yang ingin menjadi Islam, dan tentang cadar. Ketika Indirani membacakan sebuah cerita surealis tentang seorang perempuan bercadar yang terbangun pada suatu dan tidak lagi memiliki hidung, ia melilitkan selendang hitam sedikit demi sedikit, sampai akhirnya tinggal matanya yang masih kelihatan. Elemen performatif tersebut memberikan kekuatan tersendiri kepada medium cerita pendek. Sama seperti wajah tokoh fiktifnya, wajah Indirani pun berangsur-angsur lenyap. Sang penulis melontarkan pertanyaan-pertanyaan penting tanpa menghakimi.
 

Mainstream dari Jawa

Bahwa Islam perlu didiskusikan juga tampak dalam kesempatan pembacaan karya saya di Universitas Negeri Makassar sebelum salat Jumat. Seorang dosen perempuan yang menerjemahkan pemaparan saya saat diskusi dari bahasa Inggris tiba-tiba hampir menangis ketika sampai di bagian tertentu novel saya. Bagian itu membicarakan dambaan seorang gadis cilik agar diperbolehkan memakai celana hotpants. Sang dosen lalu mengungkapkan bahwa ia merasa semakin dikucilkan oleh masyarakat Muslim di Makassar sehubungan dengan cara ia berpakaian. Publik saat itu terutama para mahasiswa dan mahasiswinya sendiri, dan mereka tampak prihatin dan berempati.
Fatma Aydemir Fatma Aydemir - Makassar International Writer Festival 2018 | © Goethe-Institut Indonesien
Representasi sepertinya memang sebuah tema kontroversial di Indonesia: 17.000 pulau, enam agama (resmi), 350 tahun sejarah penjajahan – apa yang menjadi mainstream di sini? “Semua yang berkaitan dengan Jawa,” demikian pendapat Jamil Massa. Penulis itu besar di Makassar dan bercerita dalam sebuah panel mengenai “Sejarah dan Tradisi dalam Sastra” bahwa semasa remaja ia tidak pernah menemukan dunianya sendiri dalam sastra Indonesia. Semua cerita berlangsung di Jawa, semua penulis berasal dari sana.

Penulis cerita anak asal Australia Leoni Norrington mengeluhkan hal serupa. Ia tinggal di bagian utara Australia, di “kawasan belukar”, tempat warga kulit putih seperti ia sendiri jauh lebih sedikit dibandingkan penduduk asli. “Meskipun begitu, sangat sedikit kesempatan identifikasi bagi anak-anak Aborijin, baik di televisi maupun dalam sastra. Kalau pun ada tokoh berkulit hitam, mereka bukan tokoh utama dalam cerita.” Untuk mengubah keadaan ini, setelah ulang tahunnya yang kelima puluh Norrington mulai menulis buku anak yang mengambil tempat bukan di kota besar dan tidak melulu mengisahkan anak-anak kulit putih.

Mayoritas dan minoritas, ketimpangan dalam kekuasaan dan keterlihatan – wacana-wacana seperti itu tampaknya kian genting di mana pun di dunia. Apakah toleransi bisa ditingkatkan dengan cara ini akan terlihat seiring berjalannya waktu. Tetapi sastra mampu merumuskan pertanyaan-pertanyaan dalam masyarakat dengan sejelas mungkin, seperti yang terlihat di Makassar. Dan tanpa adanya pertanyaan mustahil untuk memulai pencarian akan solusi.