Akses cepat:
Langsung ke konten (Alt 1)Langsung ke menu sekunder (Alt 3)Langsung ke menu utama (Alt 2)

Coding da Vinci Selatan
Coding da Vinci Selatan Meretas Hackathon - Digitalisasi Objek Budaya

Peserta Hackathon Budaya “Coding Da Vinci Selatan” (ki-ka): Leno Veras, Molemo Moiloa, Kofi Sika Latzoo, Ignatia Nilu | Foto: Annette Walter
Peserta Hackathon Budaya “Coding Da Vinci Selatan” (ki-ka): Leno Veras, Molemo Moiloa, Kofi Sika Latzoo, Ignatia Nilu | Foto: Annette Walter | Foto: Annette Walter

Dalam rangka Hackathon Budaya “Coding da Vinci Selatan”, Goethe-Institut mengundang ke 15 pegiat budaya, penyusun kode dan peretas asal Brasil, Pantai Gading, Indonesia, Senegal, Afrika Selatan dan Tanzania datang ke Munich yang bertujuan mengembangkan ide serta aplikasi inovatif untuk digitalisasi obyek budaya.

Gasteig, perpustakaan terbesar di Munich, biasanya di sana ditemui para pengunjung yang sedang membaca - suasananya hampir selalu tenang. Tetapi pada hari Minggu itu terlihat banyak orang berkelompok di banyak meja sambil menghadapi laptop masing-masing dan berdiskusi dengan seru. Mereka datang dari negara-negara seperti Brasil, Pantai Gading, Indonesia, Senegal, Afrika Selatan dan Tanzania untuk mengikuti kegiatan Hackathon Budaya pada akhir pekan yang menandai awal “Coding da Vinci Selatan”. Dalam program ini, para pegiat budaya, penyusun kode, dan peretas membahas mengenai digitalisasi objek budaya dari galeri, perpustakaan, arsip dan museum.

Salah satu prasyarat untuk partisipasi dan kemandirian digital

Salah satu peserta adalah Kofi Sika Latzoo. Ahli strategi kreatif dan desainer dari Senegal ini, yang antara lain bekerja untuk Nasa Spaceapps Challenge Program, kini bersama timnya mengembangkan app “Musel”. Dengan aplikasi ini, kaum wisatawan dapat mengenali kekayaan seni suatu kota ketika melakukan reservasi hotel. Saat melakukan pemesanan kamar, pengguna misalnya akan melihat sebuah lukisan yang dilengkapi dengan informasi tambahan yang dapat dipanggil. Ponsel pintarnya berjejaring dengan pesawat televisi di kamar hotel, di mana sang tamu bisa memproyeksikan karya seni dalam format yang lebih besar. “Book, pledge and be artsy” adalah semboyan aplikasi cerdas ini yang ingin Latzoo implementasikan bersama kelompok kerjanya. Tujuannya: Menemukan sebuah hotel yang akan memasarkan app tersebut.

“Coding da Vinci Selatan” juga diikuti oleh Ignatia Nily, seorang kurator dan penulis asal Indonesia, yang antara lain bekerja di Museum Nasional Yogyakarta. Ia akan menghabiskan waktu selama dua bulan di Ebenböckhaus di Munich dalam rangka program residensi seniman Dinas Kebudayaan Kota Munich. Minatnya adalah praktik-praktik kolaborasi antara seniman, ilmuwan, peretas dan teknologi bebas akses dalam seni kontemporer. Di “Coding da Vinci Selatan,” ia bersama timnya mengembangkan sebuah app mengenai sejarah pos dengan nama “Global Postmaster”. Untuk itu, koleksi Museum untuk Komunikasi di Nürnberg disiapkan secara digital, sehingga pengguna dapat menelusuri jalur-jalur pos historis secara interaktif dan menambah wawasan dengan menjawab pertanyaan kuis.

“Book, pledge and be artsy” adalah semboyan app “Musel” yang baru dikembangkan oleh Kofi Sika Latzoo, Kouassi Junior Attreman, Dharwis Widya Utama Yacob dan Emmanuel Thomas Malongo (ki-ka) | Foto: Diane von Schoen “Book, pledge and be artsy” adalah semboyan app “Musel” yang baru dikembangkan oleh Kofi Sika Latzoo, Kouassi Junior Attreman, Dharwis Widya Utama Yacob dan Emmanuel Thomas Malongo (ki-ka) | Foto: Diane von Schoen | Foto: Diane von Schoen

Sebuah PDF bukanlah sudah menjadi strategi online
 

Tidak semua peserta mengembangkan app. Baginya, pertukaran pengetahuan itu faktor utama, kata Leno Veras, kurator dan ilmuwan terasosiasi pada Universidade Federal di Rio de Janeiro. “Kita menghadapi pertanyaan serupa di seluruh dunia: Bagaimana museum dapat menangani data dalam volume besar di tempat masing-masing, bagaimana museum dapat menciptakan platform non-material, dan bagaimana kita dapat menemukan solusi  pada tingkat internasional mengenai perubahan museum di era digital?” Pembahasan mengenai strategi digital dapat dilakukan oleh para peserta antara lain di Museum Lima Benua, di Lenbachhaus, dan di Akademi Bavaria untuk Ilmu Pengetahuan. Molemo Moiloa dari Johannesburg adalah bagian dari Jaringan Seni Visual Afrika Selatan (VANSA) dan sedang mempersiapkan pendirian Museum Pergerakan Perlawanan dan Pembebasan di sana.

Bagi artis dan kurator itu, sejumlah institusi di Bavaria masih sangat kental bernuansa konservatif, misalnya ketika sebuah PDF di sebuah halaman internet disebut sebagai strategi online. Dengan demikian para peserta juga mendapat peluang untuk memberi saran bagaimana partisipasi pengunjung dapat ditingkatkan, misalnya melalui platform jejaring atau format-format interaktif. Proyek Moiloa untuk “Coding da Vinci Selatan” memberi akses kepada model-model matematika Universitas Tübingen melalui sebuah situs web. Ia masih mempunyai waktu enam minggu untuk menggarap proyek tersebut bersama rekan-rekannya dari Jerman dan Brazil. Dikarenakan Moiloa akan meninggalkan Munich seusai acara pembukaan, ia dan timnya akan melanjutkan pekerjaan tersebut secara virtual.

Pada tanggal 18 Mei semua proyek yang telah rampung akan dipresentasikan di Nürnberg. Pada tahun 2020, Goethe-Institut akan menyelenggarakan Hackathon-Budaya di Brazil, Indonesia, dan salah satu negara peserta dari Afrika dengan mengacu kepada “Coding da Vinci”.

Pegiat budaya, peretas dan penyusun kode bekerja sama dalam tim. Sering kali mereka baru pertama bertemu di Hackathon | Foto: Diane von Schoen Pegiat budaya, peretas dan penyusun kode bekerja sama dalam tim. Sering kali mereka baru pertama bertemu di Hackathon | Foto: Diane von Schoen | Foto: Diane von Schoen
 

Top