Akses cepat:

Langsung ke konten (Alt 1) Langsung ke menu utama (Alt 2)

Sekali-pakai, pakai-ulang, pengembalian yang rumit: Sistem deposit untuk botol
Jerman dan Obsesi dengan Botol

Botol bekas yang disusun berbentuk hati
Foto © picture alliance / Global Travel Images | Jürgen Held

Botol kosong dibuang ke tong sampah? Di Jerman ini sesuatu yang tidak terbayangkan! Sistem deposit untuk botol dianggap sebagai contoh terbaik untuk efisiensi dan keberlanjutan. Namun, di antara idealisme pakai-ulang, realitas sekali-pakai, dan kejengkelan di depan otomat pengembalian botol bekas ada banyak hal yang tersembunyi dari pandangan.

Von Jennifer Engl

Bagi banyak orang yang berkunjung ke Jerman, ini benar-benar sebuah kejutan budaya. Kalau kita membuang botol plastik yang sudah kosong ke tong sampah terdekat atau tanpa pikir panjang meremukkan kaleng minuman yang sudah habis diminum, orang akan menatap kita sambil terheran-heran dan berkata: “Itu ada depositnya!”

Rasanya tidak ada detail keseharian yang lebih jelas menggambarkan betapa orang Jerman mementingkan ketertiban dan kesadaran lingkungan selain sistem deposit untuk botol. Sistem ini dipandang sebagai contoh terbaik untuk efisiensi – tapi sekaligus mengundang perdebatan. Apa sebenarnya yang terjadi dengan botol yang dimasukkan ke dalam mesin pengembalian wadah kosong? Dan betulkah sistem deposit untuk botol itu solusi terbaik untuk ekonomi sirkular?

Apa itu deposit untuk botol?

Istilah yang tepat sebenarnya “wadah kosong”. Ide dasarnya sederhana: sebuah wadah zat cair – apakah botol kaca, botol plastik, atau kaleng aluminium – akan dipakai lagi dalam rangka mengurangi limbah dan menjaga lingkungan. Untuk itu perlu ada sistem daur ulang yang memastikan botol dan kaleng bisa sampai ke instalasi pengisian atau fasilitas daur ulang. Hanya dengan cara itu semuanya bisa dibersihkan, dilebur, dan dijadikan botol baru.
Sebuah botol bekas dan selembar kertas bertuliskan “Untuk diberikan secara gratis”

Ada yang bermurah hati. | Foto (Detail) © picture alliance / ZB | Sascha Steinach

Sepertinya, cara termudah untuk memastikan bahwa suatu barang dibawa kembali ke tempat asalnya adalah dengan mewajibkan deposit, yaitu membayar sejumlah uang yang akan diterima lagi setelah barang bersangkutan dikembalikan. Prinsipnya seperti tanda terima di tempat penitipan mantel, tapi untuk botol dan kaleng. Ide itu sendiri sebenarnya bukan berasal dari Jerman. Swedia sudah pada tahun 1885 memperkenalkan sistem deposit untuk botol kaca ukuran 33 sentiliter. Dengan demikian, sistem deposit untuk botol di Swedia adalah yang tertua, walaupun mungkin memang bukan yang paling dikenal luas.

Efisiensi dalam bentuk botol

Yang membuat sistem deposit untuk botol menjadi “khas Jerman” adalah sistem logistik di balik konsep pengembalian itu. Gambaran stereotipe terkait efisiensi Jerman benar-benar terpenuhi oleh industri deposit botol. Kita bisa membeli sebuah botol di mana pun di Jerman dan mengembalikannya lewat mesin otomat di kota lain yang berjarak ratusan kilometer. Meskipun begitu, botol bir dari Bavaria yang dikembalikan di Hamburg akan bisa sampai ke pabrik asalnya di München. Dengan cara ini, bukan hanya pihak produsen yang memperoleh kembali botolnya, tapi toko swalayan tempat botol itu terjual dan pembeli di Hamburg pun sama-sama mendapatkan kembali sejumlah uang yang mula-mula mereka pinjamkan atau belanjakan.

Sekali-pakai, pakai-ulang ... malah repot?

Sistem ini dianggap berkelanjutan, tapi menghadapi kritik dari politisi, organisasi lingkungan, dan pihak produsen. Poin yang paling disoroti adalah perbedaan antara wadah kosong pakai-ulang dan wadah kosong sekali-pakai. Wadah pakai-ulang, biasanya botol kaca, bisa dibersihkan dan diisi ulang sampai 50 kali, sebelum akhirnya dilebur untuk daur ulang bahan baku. Sebaliknya, wadah sekali-pakai, yang biasanya berupa botol plastik, tidak bisa langsung digunakan kembali, tapi harus dicacah, dilebur, dan diproduksi ulang. Proses ini memerlukan energi dan air dalam jumlah besar dan tidak menjamin pemakaian ulang 100 persen dalam bentuk botol baru, karena plastik daur ulang juga dipakai untuk kantung keresek, misalnya, yang akhirnya menjadi limbah.
Kotak minuman kosong dengan botol PET yang dapat digunakan kembali untuk air mineral.

Botol-botol ini menanti dengan sabar untuk diisi ulang. | Foto (Detail) © picture alliance / Ina Fassbender/dpa | Ina Fassbender

Dalam rangka mendorong konsumen memilih botol pakai ulang, para pembuat kebijakan memberlakukan kenaikan deposit untuk botol sekali-pakai pada tahun 2003. Langkah ini bertujuan mengurangi pembelian botol sekali-pakai oleh para konsumen, dengan deposit yang lebih besar (sementara ini sudah mencapai 25 sen) dimaksudkan sebagai faktor penghalang. Namun, trik psikologis ini justru berakibat sebaliknya, sebab botol sekali-pakai semakin menggeser botol pakai-ulang, sementara orang Jerman semakin bersemangat mengembalikan wadah kosong. Bagi banyak orang, deposit yang lebih besar rupanya menjadi insentif tersendiri. Mungkin karena bon deposit sering kali terasa bagaikan uang hadiah.

Kacau balau

Masalahnya, tidak semua wadah zat cair mendapat pengembalian deposit. Kalau kita bukan “pakar deposit”, rasanya seperti tebak-tebakan jenis mana yang dikenakan deposit dan apa alasannya. Produk susu, berbagai minuman buah, minuman anggur, dan minuman beralkohol, misalnya, dikecualikan dari kewajiban deposit berkat upaya lobi. Sering kali tidak ada yang tahu persis mana yang ada deposit, mana yang tidak. Karena itulah banyak orang Jerman menghabiskan waktu berjam-jam di depan mesin pengembalian wadah kosong dan bertanya-tanya kenapa lagi-lagi ada botol yang ditolak oleh mesin tersebut.
Seorang wanita memasukkan botol plastik kosong ke dalam mesin pengembalian deposit.

Sumber kegembiraan dan kekesalan: mesin otomat wadah kosong. | Foto (Detail) © picture alliance / Weingartner-Foto / picturedesk.com | -

Uang tergeletak di jalanan

Apakah seefisien seperti yang diharapkan semula atau tidak, yang jelas, sistem deposit untuk botol telah menjadi bagian budaya Jerman. Berkat deposit bernilai relatif besar, upaya mengumpulkan wadah kosong bisa cukup menguntungkan. Orang-orang yang perlu uang menggunakan cara tersebut untuk mendapat penghasilan. Ini pekerjaan yang secara fisik berat dan menguras tenaga, dengan penghasilan harian biasanya di bawah 15€.
Wadah untuk deposit botol di tong sampah

Wadah botol berdeposit menyelamatkan botol dari tong sampah. | Foto (Detail) © picture alliance / HELMUT FOHRINGER / APA / picturedesk.com | HELMUT FOHRINGER

Untuk memudahkan pengumpulan botol, banyak orang menaruh botol berdeposit di samping tong sampah umum. Sebuah pemandangan yang terasa mengejutkan bagi wisatawan. Beberapa kota sudah memasang perangkat khusus berbentuk cincin pada tempat sampah umum sebagai tempat menaruh botol. Ini adalah tindakan kecil yang memperlihatkan tenggang rasa dalam rangka mendukung ekonomi sirkular yang efisien dan berkelanjutan.

Top