Arthouse Cinema - Harun Farocki
Di Hadapan Sinema Metacitra

Di Hadapan Sinema Metacitra
© Goethe-Institut Indonesien

Farocki mengkombinasikan dialog tokoh, bidikan kamera, gaya penceritaan fiksi, dan latar berlapis untuk membongkar intisari dari apa yang mengkonstruksi sebuah film: citra.

Ana bercerita kepada Robert tentang harapannya untuk memiliki bangunan yang bisa menantang kehancuran. Keduanya—saling kenal karena demonstrasi menentang kebijakan perang—lantas berandai-andai tentang Perang Vietnam: “…bagaikan sebuah mesin besar berhadapan dengan perkakas kecil, sang mesin tak berhasil membabat perkakas itu.” Lalu, kita melihat kamera bergerak menampilkan suatu adegan dioramik yang bergerak, yang di dalamnya beberapa adegan (di ranah perang) dipampatkan, hingga akhirnya: tiga anak kecil memperagakan eksekusi mati (pistol di kepala) sembari direkam kamera foto.

Selanjutnya, di kamar Ana dan Robert ada eksibisi foto-foto penawanan warga Vietnam dan simpatisan Viet Cong oleh tentara Amerika. Sembari melihat ke cermin yang berada di tengah-tengah tebaran foto, keduanya menafsir apa yang tampak di foto, menduga apa yang mungkin melatarbelakanginya, juga merenungkan kemungkinan bagaimana jika foto-foto itu dipolitisasi oleh kelompok-kelompok berkepentingan. Dialog mereka menjadi pisau bedah yang membongkar potensi citra.

Film yang Multimodal

Kedua sekuen di atas mewakili landasan untuk menyebut Etwas wird sichtbar (Before your Eyes—Vietnam, 1981) karya Harun Farocki sebagai film yang multimodal. Farocki mengkombinasikan dialog tokoh, bidikan kamera, gaya penceritaan fiksi, dan latar berlapis untuk membongkar intisari dari apa yang mengkonstruksi sebuah film: citra. Fokusnya lebih filosofis daripada historis, dan bisa dibilang menyeleweng dari kecenderungan umum gaya-gaya “metasinematik”. Oleh karena itu, sebagaimana ini telah menjadi ciri khas dalam karya-karyanya yang lain, sinema Farocki adalah “sinema metacitra”. Film ini mencontohkan eksperimentasi fiksional sebagai pisau esaistik, sembari memadukan keberpihakan politik, drama cinta segitiga, dan bingkaian atas realitas sosial sezaman.

Adegan Dioramik Bergerak 

Garis besar ceritanya sederhana: perselingkuhan Ana dan Robert, yang semasa menjalin hubungan, diisi dengan obrolan tentang Perang Vietnam. Selanjutnya, film ini adalah tentang efek peristiwa besar tersebut pada masyarakat Jerman Barat yang terhubung dengannya dari jarak jauh melalui citra-citra di media massa, dan buku. Lewat ramuan yang mengambil “studi kasus” dari Perang Vietnam ini, Farocki bukan hanya berbicara soal citra visual, tetapi juga tekstual. Percakapan-percakapan sepasang muda-mudi yang berselingkuh dihiasi kutipan-kutipan dari literatur politik, filsafat, juga sastra. Di sela-sela itu, Farocki pun menyertakan semacam komentar dan ilustrasi mengenai perang, juga narasi tentang teror yang diupayakan aktivis terhadap agen Pentagon. Di risalah ini, komentar-komentar itulah yang saya sebut adegan-adegan “dioramik bergerak.”

Etwas wird sichtbar adalah salah satu dari fiksi panjang Farocki dan merupakan salah satu filmnya yang mengangkat isu Perang Vietnam selain Inextinguishable Fire (berdurasi lebih pendek, dibuat tahun 1969). Sementara Inextinguishable Fire berbicara tentang dampak citra perang terhadap masyarakat yang konsumtif (berporos pada isu industri napalm burn), Etwas wird sichtbar, bisa dibilang, lebih berbicara tentang citra perang itu sendiri, atau lebih tepatnya, perang yang termediasi, dengan berporos pada gejolak peristiwa menjelang kejatuhan Saigon.

Filsuf bertanya: Apakah manusia itu? – Aku bertanya: Apakah citra itu?

Farocki mendekati citra layaknya filsuf mempertanyakan manusia. Di film ini, kredo itu kiranya muncul dalam adegan seorang prajurit yang menerangkan pekerjaannya sebagai ahli forensik visual: “Filsuf bertanya: ‘Apakah manusia itu?’; Aku bertanya: ‘Apakah citra itu?’” Ini mewakili renungan didaktis Farocki dalam memahami citra dan mengkritisi sinema sebagai “machine of the visible” (menurut Thomas Elsaesser dalam tulisannya “Harun Farocki: Filmmaker, Artist, Media Theorist” dalam buku Harun Farocki: Working on the Sightlines). Bagi Farocki, citra bukan lagi semata informasi. Usaha untuk memahami kengerian perang tidak dilakukan dengan mengejar dan menghadirkan gambaran riilnya, melainkan dengan membolak-balik gambaran perang yang tercitrakan. Meskipun dapat disadari bahwa secara konstruksi fiksional, kisah perselingkuhan Ana-Robert dan sejumlah “diorama bergerak” itu dirangkai paralel, adegan-adegan yang terfragmentasi itu memiliki keterkaitan dalam hal fungsinya sebagai konstruksi esaistik.

Multimodalitas naratif yang dilakukan Farocki secara cerdas dan puitik terlihat menonjol di sejumlah adegan penting. Pertama, “citra yang meruang”: perbincangan Robert dan temannya di sebuah kafe tentang pemandangan kota Edinburgh dan Yerusalem. Kedua, “perumpamaan tekstual”, dalam kaitannya dengan manajemen agraria dari masing-masing pihak yang berkonflik: Ana dan Robert mengandaikan Amerika sebagai representasi teks Clausewitz (buku karya Carl von Clausewitz berjudul On War (1832)) dan Vietnam sebagai representasi dari teks Lin Biao (buku karya Lin Biao berjudul Long Live the Victory of the People's War! (1965)).

Ketiga, “ambiguitas citra”, yang selain terlihat dalam adegan tentang keputusan Tentara Pembebasan yang tetap menggunakan peluru demi citra politis untuk dapat diakui secara resmi sebagai pemerintahan negara yang berdaulat, juga dapat dirasakan dalam adegan ketika Ana bertanya kepada Michael tentang sebait dari “First Elegy”-nya Rainer Maria Rilke (bagian dari kumpulan elegi berjudul Duino Elegies (1923)), sementara Michael menanggapinya dengan melafalkan puisi Heiner Müller, “Images“ (lihat Heiner Müller, Images, Geschichten aus der Produktion 2 terbitan Rotbuch pada 1974). Obrolan mereka berlangsung ketika sebuah TV menayangkan berita (bertanggal 29 April 1975) tentang nasib para pengungsi yang sekarat dalam perjalanan mereka menuju kota Đà Nẵng. Berita tersebut berkaitan dengan hari-hari perebutan kota Hué dan Đà Nẵng pada kisaran 25-29 Maret 1975 oleh Tentara Rakyat Vietnam (PAVN) menjelang kejatuhan Saigon.

Inti kedua puisi ini adalah batasan kemanusiaan, ironi idealisme, dan kontradiksi dua gejala: untuk mencapai resolusi dan reformasi manusia selalu melalui hal-hal bermasalah. Jika Rilke mengandaikan bahwa, untuk menuju keindahan, manusia harus melewati teror, Müller menyiratkan perjuangan kelas sebagai upaya pembangunan keadilan yang kerap mengambil cara-cara yang bertentangan dengan kemanusiaan. Kedua teks ini menggema, memperantarai citra dokumenter berita yang tayang di TV: perjalanan pengungsi perang menuju Đà Nẵng digambarkan begitu menyedihkan, padahal itu adalah momen sejarah yang mengisi detik-detik berakhirnya Perang Vietnam—Saigon takluk satu bulan kemudian.

Film ini barangkali tidak seanalitis karya-karya Farocki yang lebih belakangan, semisal Serious Games I–IV (2009/2010) atau Parallel, I-IV (2012-2014). Namun, penggunaan fiksi dalam menguliti potensi citra dan kemungkinan-kemungkinan politisnya merupakan gaya yang mewah untuk bisa diinterpretasi secara lebih bebas oleh penonton. Dalam konteks ini, citra-citra (baik visual maupun tekstual, bahkan verbal) tidak lagi terkungkung pada material, melainkan hal yang bergantung pada cara bagaimana mereka dikonstruksi.
 

penulis

Manshur Zikri © Manshur Zikri Manshur Zikri lahir di Pekanbaru, Riau, pada 1991. Ia adalah penulis, peneliti, kritikus dan pegiat budaya independen di bidang media, seni, dan film. Ia anggota Forum Lenteng, sebuah organisasi egaliter-nirlaba di Jakarta yang fokus pada kegiatan-kegiatan aktivisme kebudayaan. Sejak 2019 Zikri bekerja sebagai kurator dan manajer artistik di Cemeti – Institut untuk Seni dan Masyarakat, Yogyakarta. Zikri juga pernah terlibat sebagai kurator dan tim artistik di Arkipel - Jakarta International Documentary & Experimental Film Festival edisi 2014-2019. Dia juga terlibat menjadi salah satu selektor film pada penyelenggaraan Festival Film Dokumenter 2020 (FFD) di Yogyakarta, khusus untuk program film kompetisi panjang internasional.

Top